Jumat, 29 November 2013

Karena Sihir Aku dipanggil Neng, Ibu atau Nenek



Mendapat tiga nama panggilan berbeda itu hal biasa.Di sekolah dipanggil Rinto, di rumah dikenal dengan nama Tobing. Panggilan sesama teman pun berbeda. Tapi bila panggilan tersebut berkaitan dengan umur, ini baru aneh. Pagi dipanggil neng, siang dipanggil mbak, sore dipanggil bu atau nenek. Padahal orangnya sama. Usianya pun tidak banyak berubah. Semua itu dialami Novi karena sihir kerabat sendiri. Novi menceritakannya kepada Majalah Al-lman ditemani ibunya. Berikut petikannya. 
Tujuh tahun lalu, saat lebaran Idul Fitri. Aku pulang ke kampong halaman di daerah Semarang Jawa Tengah. Aku rindu dengan nenek yang selama ini suaranya hanya kudengar melalui telepon. Aku memang terbilang jarang pulang kampung. Bukan sombong lantaran dibesarkan di kota besar, tapi kesempatan untuk pulang kampung memang sulit kudapatkan. Usiaku yang masih belasan tahun, menjadi kendala tersendiri. Ibu tidak rela melepaskanku pulang sendiri ke kampung halaman.
Sementara jadwal liburan sekolah tak jarang juga berbenturan dengan kegiatan orangtua. Kerinduanku pada nenek kulampiaskan melalui telepon. Suaranya yang lembut memberi kehangatan tersendiri. Terbayang betapa enak tidur di pangkuan nenek. Dibelai dan dimanja-manja di beranda rumah sambil melihat hamparan sawah yang menghijau.
Rumah nenek terletak di diujung desa. Langsung berbatasan dengan sawah yang ditumbuhi padi. Hanya dipisahkan oleh jalan desa yang berbatu. Sebatang pohon mangga bertengger di sebelah kiri. Sementara di bagian kanan ditumbuhi pohon belimbing. Kondisi alam pedesaan yang sunyi dan damai itulah yang menambah kerinduanku pada kampung halaman.
Seperti biasa. Rumah nenek menjadi tempat perkumpulan anak dan cucunya di hari lebaran. Hadir juga adik ibu yang biasa kupanggil dengan Bibi lta. Ia ditemani suaminya, Om Aji. Dengan Bibi lta, aku sudah sering ketemu. Nyaris tiap pulang kampung, ia menyempatkan diri menemui ibu yang juga kakak kandung nya. Sedangkan dengan Om Aji, aku baru pertama kali bertemu dengannya. Bapak dan ibu juga baru pertama bertemu dengan Om Aji.

Di hari pernikahan Bibi dengan Om, bapak dan ibu tidak sempat hadir. Sore itu, keluarga besar ibu berkumpul. Kami bercengkerama dan bersenda gurau. Nenek tampak ceria. Matanya berbinar-binar melihat tingkah polah cucunya yang lucu-lucu. Om Aji nampak sedikit canggung berbicara dengan bapak dan ibu. Ia memilih bergurau dengan anak-anak di samping rumah. Dari jauh, kulihat ia melambaikan tangan. Ia memintaku mendekat.
Kuturuti permintaannya. Meski aku juga merasakan desiran lain ketika berdekatan dengan Om Aji. Ada getar ketakutan ketika melihat sorot matanya. Entahlah mengapa demikian
“Ya, Om, ada apa?” tanyaku ketika jarak kami tinggal dua meteran. “Nggak apa-apa. Omcuma mau ngobrol saja,” katanya. Selanjutnya, ia bertanya banyak hal tentang sekolahku. Ia juga bercerita sambil membelai rambutku. Ia mengusap kepalaku berkali-kali.
Sebenarnya, aku tahu mengapa Om Aji, enggan berkumpul dengan keluarga lain. Ia risih bersama mereka. Om Aii memang kurang diterima di tengah keluarga besar ibu. Selain karena hubungannya yang tidak harmonis dengan bibi, ia juga berperangai kasar. Kudengar dari ibu, bila Bibi lta sering bertengkar dengan Om Aji. Rumah tangga mereka tidak lagi seusia jagung. Mereka sudah dikaruniai dua anak. Tapi yang terjadi lustru seperti anak-anak yang rebutan mainan. Lalu berakhir dengan pertengkaran.
Nenek cukup tertekan dengan masalah ini. Beberapa kali nenek menasehati Bibi Ita agar meminta cerai pada suaminya. Awalnya, Bibi Ita setuju, tapi setelah berkumpul kembali dengan Om Aji, ia tak kuasa meminta cerai.
Aku Kerasukan Jin Om Aji
Enam bulan kemudian, aku kembali ikut bapak dan ibu ke Semarang. Namun suasanya jauh berbeda. Tak ada canda tawa seperti enam bulan lalu. Semuanya murung. Membayangkan betapa menderitanya nenek yang tewas dibunuh.
Berita kematian nenek yang hanya berselang sehari dari rencana keberangkatannya ke Jakarta menggegerkan kami. Sebulan sebelumnya kudengar ibu bercerita bila nenek sedang sakit. Di perutnya ditemukan benjolan yang mengeras. Kata dokter, benjolan itu harus diopetasi. Namun, takdir berbicara lain. Nenek sudah meninggal sebelum sempat berobat ke Jakarta.
Bila nenek meninggal dengan wajar, tentu hati kami tidak remuk redam seperti ini. Apa salahnya nenek? Beliau sudah tua dan tidak memiliki musuh. Namun, mengapa harus meninggal dengan cara demikian? Tak ayal, geram dan kemarahan tertumpah kepada pembunuh nenek yang hingga saat iyu belum ditemukan.
Ceceran darah yang mengarah ke tembok rumah tetangga, tidak bisa diladikan alasan. Polisi juga belum menemukan siapa pembunuh nenek. Berbagai cara telah ditempuh, untuk mengurai benang kusut misteri pembunuhan itu. Tapi belum juga menunjukkan hasil.
Setelah tiga hari di Semarang, kami kembali ke Jakarta. Tepat sebelum Maghrib, kami sampai di rumah. Aku rebahan di kamar untuk menghilangkan penat dan lelah. Adzan Maghrib yang nyaring dari masjid dekat rumah juga tak mampu membangunkanku yang langsung tertidur pulas.
Ceplekan tangan di lengan menyadarkanku. Remang-remang kulihat ibu membangunkanku. Kuucek-ucek mata yang enggan terbuka. Aku kembali tertidur tak lama setelah ibu keluar dari kamar.
Sekitar setengah jam kemudian, aku baru keluar kamar. Masih belum shalat Maghrib. Aku keluar kamar dengan badan berat. Entah mengapa, aku merasakan ada sesuatu yang lain dalam diriku. Badanku terasa berat. Untuk menghilangkan pusing di kepala itu, aku mendekati ibu yang sedang duduk di kursi. Kusandarkan tubuhku di pangkuan ibu. Kuingin merasakan kasih sayang orangtua di kala sakit seperti itu. Tak lama kemudian, kudengar ibu menyuruhku untuk segera shalat Maghrib.
Ibu menyuruhku shalat dengan suara lembut. Tapi reaksiku di luar dugaan. Pikiranku tak lagi terkontrol. Aku marah dan langsung mendorong ibu sampai terjerembab ke lantai. Aku tidak tahu mengapa sikapku mendadak berubah.
Disuruh shalat tidak mau. Dinasehati marah. Aku merasakan diriku bukan lagi aku yang dulu. Ada sesuatu yang lain. Selang beberapa saat kemudian, aku tidak sadarkan diri. Dalam keadaan setengah sadar, aku merasakan ada sosok lain masuk ke dalam diriku. Sosok itu tak lain adalah Om Aji yang mengenakan baju merah. Ya, aku seperti melihat tubuh Om Aji melayang dan masuk ke dalam ragaku. Selanjutnya, aku kembali tak mampu mengingat apa-apa
Menurut cerita yang kudengar dari orang tuaku setelah aku tersadar, beberapa saat setelah pingsan, katanya, aku terbangun. Mataku memerah. Gigiku bergeretak. Bapak yang menungguiku segera meminta bantuan tetangga kiri kanan.
Mereka berdatangan. Aku yang sudah kerasukan jin dipegang empat orang lelaki dewasa. Aku terus merontaronta. Orang-orang kebingungan. Apa yang harus dilakukan, sementara aku terus berontak.
“Bagaimana inil?” kata bapak kebingungan. “Ayo, Pak. Kita panggil saja dukun Marto. Ia tinggal di desa sebelah,” ujar seorang tetangga memberi saran. Sebenarnya, keluargaku termasuk orang yang tidak percaya dengan dukun. Tapi bapak belum menemukan cara lain untuk menghentikan arnukanku. Akhirnya bapak menyerah. Ia memanggil dukun Marto ke rumah.
Memang, setelah sekian lama diterapi dukun Marto aku sadarkan diri. Aku mulai bisa mengenali orang-orang di sekelilingku. Tapi akibat dari kerasukan jin itu, kakiku tidak bisa digerakkan. Entah bagaimana ceritanya, aku bisa lumpuh. Padahal sebelumnya aku tidak merasakan sakit apa-apa. Untuk ke kamar kecil saja, aku harus minta pertolongan orang tua.
Keesokan harinya dukun Marto datang bersama seorang temannya. Katanya, jin kiriman itu akan datang lagi. Entah dari mana dukun Marto mengetahuinya. Yang jelas, pagi itu ia melakukan pemagaran ghaib.
Pembantu dukun Marto mengelilingi rumah. Pas, ketika berada di samping jendela kamar. Ia teriak. Suaranya mengejutkan kami yang berada di ruang tamu. Katanya, ia melihat sosok tinggi besar berada di dalam rumah. Untuk pertama kalinya ada penampakan di rumahku. Padahal sebelumnya aman-aman saja.
Malam itu, adalah malam pertama dari derita berkepanjangan yang menderaku. Selama tiga bulan, aku selalu kerasukan jin.
Jati diri Om Aji
Apa yang menimpa diriku, membuka kembali lembaran masa lalu siapa sebenarnya Om Aji dan mengapa Bibi Ita mau menjadi istrinya. Kata ibu, sebelum menikah, Bibi Ita hanya sekali bertemu dengan Om Aji, Itu pun karena dikenalkan oleh Bibi Dian. Katanya, ada seorang lelaki yang sudah mau menikah, tapi belum ada calonnya.
Akhirnya Bibi Ita dikenalkan dengan Om Aji. Pada pertemuan pertama itu, Bibi Ita langsung tertarik. Ia ngotot agar segera dinikahkan. Awalnya nenek tidak setuju, karena ia belum melihat calon menantunya. Maksud nenek, ia ingin mengetahui dulu siapa calon menantunya. Karena ia tidak mau terburu-buru dalam masalah jodoh. Tapi Bibi Ita tetap memaksa. Nenek pun menyerah. Ia nikahkan anaknya dengan berat hati.
Setahun kemudiain, kedok Om Aji terbongkar. Ketika Om Aji mengantar Bibi Dian berobat ke seorang dukun dengan ditemani Bibi lta. Dukun tersebut terkejut. “Ini istrimu, Aji?” tanyanya. “Kenapa, kamu tidak datang datang kemari. Padahal sebelum menikah dengan dia, kamu datang ke sini?” Tanya dukun itu lagi.
Peristiwa tersebut menyadarkan keluarga besar ibu bahwa Bibi Ita diguna-guna Om Aji. Wajar, bila selama pernikahan itu, kehidupannya tidak harmonis. Pertengkaran bukan hal aneh bagi mereka. Om Aji sudah kehilangan rasa malu. Ia dengan santainya mengambil gaji istrinya yang menjadi pegawai negeri langsung di kantor. Gaji yang seharusnya menjadi hak Bibi itu pun digenggamnya. Sementara ia sendiri tidak punya pekerjaan tetap. Kerjanya hanya mabuk-mabukan.
Meski demikian, Bibi lta tidak mau meminta cerai. Seluruh keluarga besarnya sudah setuju bila ia minta cerai. Thpi Bibi Ita tidak mau melakukannya. Entahlah, apa yang memberatkan hatinya. Ataukah guna-guna itu begitu kuat mempengaruhi jiwanya?
Ratusan Dukun Gagal Mengobatiku
Aneh tapi nyata. Begitulah perubahan drastic yang terjadi di tengah keluargaku. Sepulang dari Semarang, bukan hanya diriku yang berubah. Seluruh anggota keluargaku juga mengalami hal yang sama. Bedanya, mereka ketakutan di luar batas kewajaran. Bayangkan, untuk ke kamar mandi saja ibu sudah tidak berani. Harus ada orang lain yang mengantarnya. Begitu juga dengan diriku dan adik-adikku. Tidurpun tidak lagi di kamar masing-masing. Kami sekeluarga tidur bersama di ruang tamu.
Beberapa kejadian aneh juga pernah diceritakan Bibi Ita sebelum kematian nenek. Katanya, ada yang melihat monyet di kamar mandi. Bibi Ita juga pernah melihat ular jadi-jadian. Di lain kesempatan ada juga yang melihat musang. Musang dan ular memang masih dimungkinkan hewan liar yang masuk ke dalam rumah. Meski kemungkinan itu sangatlah tipis. Tapi monyet jelas berbeda. Binatang ini sudah tidak lagi ditemukan di kampong halamanku.
Dua minggu setelah aku sakit, kejadian yang lebih menggemparkan terjadi di rumah peningalan nenek. Ketika beberapa orang sedang membersihkan rumah, secara tak sengaja, mereka menemukan kain kafan yang terbungkus dalam kotak kaca. Di dalamnya terdapat berbagai macam benda-benda cirri khas perdukunan. Ada boneka-boneka kecil, jarum, dan beberapa potongan kertas bertuliskan nama nenek, ibu, bibi Dian dan suaminya serta namaku.
Penemuan benda-benda aneh itu semakin meyakinkan kami bahwa yang melakukannya adalah Om Aji. Dalam perkiraan kami, ia bermaksud membunuh atau menyiksa orang-orang yang dianggap menentang pernikahannya dengan Bibi Ita. Masalahnya, kami tidak memiliki bukti yang kuat untuk melaporkannya kepada kepolisian. Yang bisa kami lakukan hanyalah melakukan penjagaan diri agar korban-lorban berikutnya tidak berjatuhan.
Yang paling parah memang diriku. Tiga bulan lamanya, sejak pulang dari Semarang, aku selalu pingsan tiap malam. Bahkan sebulan pertama, aku selalu pingsan siang dan malam.
Ketika pingsan itu, aku merasakan diriku seakan dibawa terbang jauh. Jauh sekali. Ke daerah yang selama ini belum pernah kudatangi. Kadang aku dibawa ke pinggira pantai. Lain kesempatan aku dibawa ke ruangan salah seorang dukun. Dalam keadaan tidak sadar itu, aku menyaksikan bagaimana seorang dukun beraksi.
Ada kemenyan, dupa, boneka-boneka kecil, jarum, keris, baskom dan atribut perdukunan lainnya. Baskom yang kulihat itu bukan lagi berisi air. Karena air baskom itu berwarna merah. Darah orang-orang yang menjadi korban perdukunan. Karena di ruangan itu juga sempat kulihat beberapa mayat bergelimpangan. Mayat-mayat itu bersimbah darah.
Apa yang terekam dalam memoriku itu memang mengerikan. Thpi aku tak kuasa menolak. Setiap kali pemandangan itu terpampang di depan mata, aku hanya bisa pasrah dan menerima. Karena secara fisik, badanku memang ddak bisa digerakkan. Aku hanya mengandalkan bantuan dari orang-orang di sekelilingku.
Tiap malam, ada tetangga yang membantu meringankan penderitaanku dengan membaca al-Qur'an. Tapi gangguan yang menyebabkanku pingsan itu tetap saja tak dapat kuhindari. Biasanya, aku mulai sadarkan diri, ketika ibu membacakan tiga ayat terakhir dari surat al-Baqarah ke telingaku.
Dukun dari Sumatera, Jawa Barat maupun Jawa Tengah sudah banyak yang kami datangi. Tapi jin kiriman Om Aji, tetap tidak bisa dimentahkan. Pernah ada seorang dukun, yang mengaku melakukan tirakat di Gunung lawu untuk menarik kekuatan dukun Om Aji di Semarang. Ia datang menemui bapak membawa apa yang dikatakan sebagai bukti keberhasilannya. Ada keris kecil, boneka kecil dan berbagai benda lainnya. Ujung-ujungnya ia meminta dana kepada bapak sebagai upah dari apa yang telah dilakukannya.
Ada juga dukun yang memberi ibu berbagai jenis benda yang katanya bisa menolak balak dan menyembuhkanku. Ada keris, ada kalung, ada cincin dari batu, dan benda-benda lainnya. Meski demikian, tetap saja jin kiriman itu datang dan merasuk ke dalam diriku sesuka hatinya.
Aku yang masuk dalam sepuluh besar murid terbaik selama di SMP harus merasakan sedihnya tidak naik kelas. Ya, aku mengalami gangguan ketika kelas satu SMA yang baru berjalan enam bulan. Praktis di tahun pertama itu, aku sering tidak masuk kelas. Terkadang masuk sekolah hanya sebulan sekali. Bukan karena takut dengan teman-teman, tapi tiga bulan pertama, aku sering pingsan. Belum lagi harus kesana kemari mencari pengobatan. Semua itu tidak hanya menguras uang dan tenaga, tapi juga pikiran.
Lebih menyedihkan lagi, aku seakan terasing di tengah lingkunganku sendiri. Di sekolah, jarang ada teman yang mau berdekatan denganku. Rata-rata mereka khawatir bila ketempelan jin seperti diriku. Aku tidak bisa menyalahkan mereka. Kenyataannya, aku memang terus mendapat rongrongan dari jin yang terlaknat itu.
Prestasi yang sempat membanggakan diriku dan keluarga itu tinggal kenangan. Aku bahkan pernah tidak naik kelas. Kurasakan kemampuan akademikku hingga kini baru mencapai 25%. Sangat jauh dari apa yang diharapkan dulu.
Yang lebih menyedihkan lagi, aku tidak bisa membaca al-Qur’an. Lembaran-lembaran al-Qur’an itu nampak hitam di mataku. Tanpa ada tulisan. Tanpa ada goresan. Seberapa pun ukuran al-Qur’an yang disodorkan kepadaku, hasilnya tetap sama. Hanya warna hitam yang terpantul di sana.
Telingaku pun mendapat gangguan serupa. Entah perjanjian seperti apa yang dilakukan Om Aji, hingga jin itu juga menyumbat telingaku dari suara adzan. Bertahun-tahun lamanya, aku tak dapat mendengarkan suara adzan. Bukan lantaran tuli, karena aku bisa mendengar suara-suara lainnya.
Mengenal Ruqyah dari Internet
Setelah lima tahun sakit, ada saudara ibu yang menyarankanku mengikuti terapi ruqyah. Bibi mengetahui infqrmasi ruqyah melalui internet. Sebelumnya, aku juga pernah mendengar istilah ruqyah di sinetron Astaghfirullah. Tapi entahlah, waktu itu aku masih belum tergerak mengikutinya.
Baru setelah beberapa kali bibi menyarankan ruqyah, akhirnya bapak dan ibu membawaku berobat ke Ustadz Anhar di Tangerang. Ketika Ustadz membacakan ayat-ayat al-Qur’an, badanku seperti terkena setrum listrik. Tapi anehnya, aku tidak mendengar suara ayat al-Qur’an yang dibaca Ustadz Anhar. Padahal menurut ibu, ustadz membacanya dengan keras. Tak lama kemudian, aku meronta-ronta hingga dipegangi empat orang.
Setelah mengikuti terapi ruqyah sepuluh kali, uluhatiku terasa sakit. akhirnya Ustadz Anhar menyarankan agar aku mengikuti terapi ruqyah di Ghoib Ruqyah Syar’iyyah, karena ada dokter yang mendampingi. Ustadz khawatir bila sakit di uluhatiku semakin parah.
Ustadz Aris yang menerapiku di Ghoib Ruqyah Syar’iyyah mengatakan, bahwa untuk mempercepat proses kesembuhan diriku, aku harus berusaha ikhlas menerima gangguan ini dan menghilangkan rasa dendam yang membara. Kuakui, aku memang sulit memaafkan Om Aji. Karena ulahnya, aku kehilangan berbagai kesempatan untuk berkembang.
Sulit memang. Tapi aku harus berusaha. Perlahan, aku mencoba menenangkan diri dan merenungkan kembali perjalanan hidupku. Bukan untuk masa yang telah lalu, tapi demi masa depan yang penuh dengan tantangan. Tantangan ke depan lebih berat dari kemarin. Karena itu, aku harus bisa melupakan masa lalu dan menatap masa depan dengan mantap.
Setelah berjuang sekian lama. Perlahan, aku dapat memaafkan. Hingga kurasakan keadaanku semakin membaik. Pelan namun pasti. Meski sampai detik ini, jin kiriman itu masih sesekali datang. Untuk mendeteksi kehadirannya, tidaklah sulit. Aku keluar rumah. Setelah itu melihat reaksi orang-orang di sekelilingku. Bila mereka memanggilku ibu, berarti ada jin yang merasuk ke dalam diriku.
Sejak awal gangguan, aku mendapat tiga panggilan. Di pagi hari, biasanya dipanggil neng. Siang hari dipanggil mbak. Sore hari dipanggil ibu. Aku dipanggil neng, karena di pagi hari, wajahku seperti masih anak-anak. Suaraku juga seperti suara anak-anak. Siang hari, wajahku berubah seperti seorang gadis remaja. Sore hari, berubah lagi. Terkadang seperti wanita berusia empat puluhan tahun. Bahkan tak jarang suaraku berubah seperti nenek.
Perubahan suara dan wajah itu tak dapat memang sulit kukendalikan. Karena itu adalah reaksi dari masuknya jin ke dalam diriku. Semoga, Allah memberikanku keteguhan untuk menapak jalur ruqyah. Meninggalkan berbagai jenis praktik perdukunan di belakang. Dan menatap masa depan dengan tetap optimis.

Ruqyah Majalah Ghoib Dan Bekam 021-70374645, 0815 11311 554
http://ruqyahmajalahghoib.blogspot.com/p/blog-page.html
 
Sumber : Majalah Al-Iman bil Ghoib Edisi 90/4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar