Jumat, 29 Agustus 2025

Saya selalu Berusaha Tersenyum di tengah Kegetiran Hidup



Dengan harapan saya bisa memperbaiki nasib hidup, saya menginjakkan kaki pertama kali di Jakarta tahun 1974. Sebelumnya saya tinggal di Cilacap yang juga sebagai kampung halaman dan tempat kelahiran saya. Kehidupan kami di kampung yang pas-pasan sejak di tinggal mati bapak membuat saya bertekad untuk merantau. Waktu itu usia saya sekitar 16 tahun karena saya lahir 15 Agustus 1968. Kesempatan untuk merantau itu datang ketika salah seorang teman saya yang lebih dulu ke Jakarta mengajak saya untuk ikut ke kota metropolitan. Selain untuk mencari nafkah saya juga berniat melanjutkan sekolah yang waktu itu hanya sampai SD. 


Tiba di Jakarta saya tinggal di daerah Utan Kayu. Waktu itu saya bekaerja di salah satu perusahaan ekspedisi kapal laut sebagai pembantu. Setahun kemudian saya beralih profesi menjadi tukang minyak keliling. Hanya berlangsung beberapa bulan saya ganti mpekerjaan lagi dengan jualan bubur ayam keliling dengan dipikul. Waktu itu bos (juragan) saya seorang Chinese saya hanya menjual saja. Cuma tiga bulan ikut bos, saya memisahkan diri dan jualan sendiri. Ketika bos saya tahu saya jualan sendiri dia marah, dan ketika ketemu di jalan pikulan saya ditendang dan akhirnya dagangan saya berantakan dan banyak mangkok saya pecah. Sebetulnya ada perbedaan bubur ayam bos saya dengan bubur ayam yang saya buat. Sebagai penyedap rasa bos memakai minyak babi sedangkan bubur saya hanya pakai kaldu ayam. Saat itu saya belum paham kalau minyak babi itu haram, saya sangat awam. Modal saya ke Jakarta hanya bacaan shalat, bacaan qulhu dan innna a’thoina juga ngaji alif-alifan.

Saya dagang bubur beberapa bulan sampai akhirnya suatu ketika saya kena musibah. Sebelumnya saya kata orang sedang jatuh cinta, namun cinta saya kepada seorang gadis ternyata bertepuk sebelah tangan. Saya pun patah hati. Efeknya ketika dagang saya banayk melamun dan akhirnya tiba-tiba ada mobil yang menabrak pikulan saya. Saya pun terputar dan terhuyung. Tak ayal dagangan saya yang belum laku satu pun akhirnya hancur berantakan. Habislah modal saya.

Awal kehancuran hidup

Dalam kegalauan hati, saya bertemu seorang perwira polisi yang cukup kaya dan tinggal seorang diri di rumah yang cukup besar. Ternyata dia bernasib sama dengan saya, baru saja patah hati. Diapun mengajak saya tinggal di rumahnya sambil menemani dia. Klopnya lagi dia senang main gitar sedangkan saya waktu itu senang nyanyi. Diapun sering meminta saya menyanyi, sambil saya bantu-bantu di rumahnya. Suatu hari keluarga polisi itu ada yang datang ke rumah. Mungkin karena simpati, saya pun diajak untuk kerja di rumahnya. Saya pun setuju dan pindah.

Melihat hasil kerja saya bagus dan bisa kerja apa saja, tahun 1977majikan saya menawarkan kerja di Hotel Marcopolo di daerah Cikini. Di sana saya bekerja sebagai time keeper (pengawas absensi). Tahun 1978 saya dipindahkan ke bagian cleaning service. Selain itu di tahun ini pula saya mulai melanjutkan sekolah pada malam hari di SMP Taruna Jaya. Setahun kemudian saya dipindahkan lagi dari hotel ke night club Marcopolo tetap sebagai CS. Di night club ini saya dikenal badung dan sering melanggar. Saya sering ikut nyanyi bersama pengunjung padahal hal itu dilarang bagi karyawan. Ujung-ujungnya saya dipindahkan ke bar bagian bartender. Di sinilah saya semakin rusak. Secara karir memang tampaknya meningkat tetapi secara moral semakin hancur. Betapa tidak di tempat ini saya mesti banyak bergaul denagn pengunjung yang kebanyakan wanita. Saya juga mulai mengenal minuman keras. Shalat sudah mulai jarang. Pulang pagi sudah biasa. Dan masih banyak lagi. 

Sabtu, 02 Desember 2023

Menunjuk Ke Arah Kuburan, Jemari Jadi Kitheng (Bertumpuk)

               Sesuatu yang hanya 'Katanya', yang tidak ada dalil syar'i yang menjelaskan kebenarannya, sudah sekian banyak tersebar di tengah-tengah masyarakat kita. Sesuatu yang pada awalnya hanyalah sebuah katanya itupun lambat laun mengendap bersama dengan akidah masyarakat Islam. Dan pada akhirnya, katanya pun berubah menjadi keyakinan yang mengotori kemurnian akidah Islam.

            Maka dari itu, katanya pun harus dikaji dan dilihat dengan benar, agar iman kita tidak bercampur dengan noda-noda kesyirikan.

            Ada satu hal yang masih katanya, tapi diyakini oleh sebagian masyarakat kita. Yaitu, larangan untuk menunjuk ke arah kuburan dengan jari telunjuk kita. Bila dilakukan, maka akan fatal akibatnya. Bisa-bisa jari jemari pelakunya akan saling bertumpuk dan berdempetan antara satu sama lain. Atau dalam bahasa Jawa kita mengenal dengan istilah 'kitheng'.

            Benarkah keyakinan seperti itu?

            Tentu saja tidak! Inilah salah satu bentuk salah kaprahnya orang-orang yang terlalu mengkeramatkan kuburan. Mereka menganggap kuburan adalah tempat paling angker, sehingga sekedar menunjuk ke arahnya dengan menggunakan telunjuk saja akan berakibat tidak baik bagi yang melakukannya. Atau dalam istilah lainnya kuwalat. Pada akhirnya, tidak sedikit dari orang-orang yang mengkeramatkan kuburan itu kemudian melakukan ritual-ritual setan di sana.

            Apalagi kalau kuburan tersebut adalah kuburan orang yang shalih semasa hidupnya di dunia. Contohnya seperti kuburan para wali, baik wali lokal maupun wali-wali yang namanya sudah dikenal banyak orang, seperti wali songo. Banyak orang-orang yang mengkeramatkannya, lalu melakukan ritual-ritual yang keluar dari ajaran Rasulullah Saw. Memang Rasulullah Saw tidak melarang ummatnya untuk berziarah kubur. Tapi tentunya ziarah yang di dalamnya tidak ada unsur-unsur yang merusak kesucian akidah.

            Kalau kita tahu, bahwasanya sebab awal terjadinya kemusyrikan di muka bumi adalah pengagungan orang-orang shalih yang berlebihan. Itu pertama kali dilakukan oleh kaum Nabi Nuh. Dan akhirnya model kemusyrikan semisal ini masih tetap ada hingga hari ini.

            Dalam Islam memang ada adab-adab bagaimana saat kita memasuki kuburan. Bahkan Rasulullah Saw mengajarkan doa saat memasukinya atau melewatinya. Tapi itu semua bukan berarti sampai pada tingkatan pengagungan kuburan atau mengeramatkannya.

Senin, 27 Maret 2023

Keghaiban Pahala Puasa


عَنْ أَبِيْ صَالِحٍ الزَّيَّاتِ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ -رَضِي اللَّه عَنْه- يَقُولُ:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: قَالَ اللَّهُ: كُلُّ عَمَلِ

ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ ... (رواه البخاري ومسلم)

 

Dari Abu Shalih az-Zayyat, ia telah mendengar Abu Hurairah berkata, “Rasulullah bersabda bahwa Allah telah berkata, ‘Setiap amal ibadah anak cucu Adam itu untuknya, kecuali puasa. Karena (puasa) itu untuk saya, dan saya sendiri yang akan membalasnya…’.” (HR. Bukhari, no. 1771. Muslim, no. 1942).

 

Suatu ibadah kaitannya sangat erat dengan pahala dan dosa. Bagi siapa saja –laki atau perempuan- yang melaksanakan ibadah kepada Allah secara benar, maka ia akan mendapatkan pahala dari Allah sebagaimana yang telah Dia janjikan. Dan siapa saja yang meninggalkan ibadah yang telah Allah perintahkan, maka ia akan mendapatkan dosa dan siksa yang pedih dari Allah sebagaimana yang Dia ancamkan.

 

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتَ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَـئِكَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يُظْلَمُوْنَ نَقِيْراً

 

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. an-Nisa’: 124).

Dan ibadah yang dilakukan oleh seorang mukmin atau mukminah, tidak akan diterima oleh Allah dan tidak akan dibalas dengan pahala yang dijanjikanya, kecuali bila ibadah itu memenuhi dua syarat pokok. Pertama, ibadah itu dilaksanakan sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah. Sebagaimana yang disabdakan rasulullah dalam haditsnya.

Rasulullah bersabda.

 

عَنْ عَائِشَةَ -رَضِي اللَّه عَنْهَا- قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ، فَهُوَ رَدٌّ. (رواه البخاري)

 

Aisyah berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa mengadakan sesuatu yang baru dalam perkara kami ini (ibadah) yang tidak ada tuntunannya, maka ia tertolak.” (HR. Bukhari, no. 2499).

Dalam riwayat lain.

Rabu, 04 Januari 2023

Penyakit Tidak Sembuh di Tangan Dukun


Keponakan saya umur 7 tahun, tapi belum bisa berbicara. Sudah diobatkan ke dokter spesialis THT dan dinyatakan normal. Dan ketika dibawa ke ‘orang pintar’, dikatakan bahwa saat ibunya hamil pernah menyenggol anaknya jin yang mengakibatkan tangannya patah. Lalu disuruh mengikat kambing hitam yang sedang hamil di tepi pantai jam 24.00 sebagai ganti. Dan anehnya kambing itu tiba-tiba menghilang. Walaupun sudah diikuti resep tersebut, sampai sekarang anak itu belum sembuh. Apa solusinya ustadz?.

Catur Mai Prasetia, Perum Rindang Garden, RSS Batu Aji Batam.

 

Bismillah wal Hamdulillah, Kami ikut prihatin atas musibah yang menimpa keponakan Anda, yang sudah berumur 7 tahun tapi belum bisa berbicara. Yang membuat musibah itu bertambah besar dan lebih fatal ketika anak itu dibawa ke ‘orang pintar’. Dilihat dari kinerjanya, jelas sekali bahwa yang Anda maksud dengan orang pintar itu adalah dukun. Seharusnya apa yang dikatakannya tidak boleh dipercaya, apalagi dilaksanakan. Dan ketika Anda melaksanakannya dengan menumbalkan seekor kambing hitam sedang hamil, berarti Anda telah melakukan kesyirikan dua kali. Pertama, Rasulullah telah melarang kita untuk mendatangi dukun dan Anda telah mendatanginya. Kedua, Rasulullah telah melarang kita untuk menyembelih atau berqurban untuk selain Allah dan Anda telah berqurban untuk untuk syetan perewangan si dukun. Dan solusi dari kedua musibah adalah bertaubat dengan menyesali apa yang telah anda perbuat dan memperbanyak istighfar serta meninggalkannya seterusnya.

Kalau memang baru sekali Anda memerikasakan keponakan ke THT dan hasilnya normal atau negatif. Tidak ada salahnya bila Anda memeriksakannya lagi ke spesialis THT yang lain. Sebab kasus seperti itu pernah juga kami jumpai di lapangan. Setelah periksa dua, tiga kali ternyata baru diketahui jenis penyakitnya. Memang ada juga jenis penyakit fisik yang ‘ditunggangi’ oleh gangguan jin. Ada pasien kami yang merasa perutnya sakit, setelah diperiksa ke dokter beberapa kali dinyatakan normal. Lalu dia menjalankan terapi ruqyah di kantor Majalah Ghoib. Dan reaksinya cukup lumayan. Setelah itu dia periksa ulang ke dokter, dan hasilnya baru tampak, yaitu ada tumor di perutnya. Setelah dilakukan operasi, alhamdulillah Allah memberinya kesembuhan.

Dalam kasus keponakan Anda, Anda telah rugi berlipat-lipat. Rugi waktu, materi dan tertekannya jiwa oleh kecemasan serta belum sembuhnya sakit keponakan. Dan yang lebih besar adalah ganasnya virus kesyirikan yang menjangkiti akidah. Kami menyarankan kepada Bapak Catur sekeluarga agar bersabar menghadapi musibah ini. Dengan begitu, kecemasan yang ada akan diganti dengan ampunan oleh Allah. Dan materi yang Anda keluarkan untuk berobat yang tidak menyimpang akan dibalas oleh-Nya. Teruslah berusaha untuk mencari kesembuhan dengan cara yang dibenarkan syari’at. Boleh saja Anda berkonsultasi ke medis, tapi jangan lupa dengan yang Maha Penyembuh. Berdoa dan berdoalah selalu kepada Allah, termasuk dengan menjalani terapi ruqyah. Anda bisa mendatangi cabang kami yang ada di kota Padang untuk konsultasi secara langsung atau menjalani terapi. Adapun nomor kontaknya (0751) 35559. Semoga Allah cepat memberi kesembuhan.       

 

Senin, 02 Januari 2023

Sulis dengan “kelebihannya” bisa mengobati orang dengan hanya sekedar menjalankan bisikan dalam hatinya atau bisa menebak pencuri dengan foto, hanya sebuah kasus. Tetapi kasus ini sebenarnya mewakili banyak orang di negeri ini.

Kemampuan yang dimiliki Sulis oleh kebanyakan masyarakat kita dimaknai sebagai anugerah dari tuhan, dianggap orang yang linuwih. Intinya, manusia pilihan yang dipilih dari sekian banyak manusia. Itulah sebabnya masyarakat kita merasa biasa saja mendatangi orang seperti Sulis untuk menyelesaikan masalahnya. Apalagi jika orang sedang panik, kehilangan benda berharga umpanya. Dengan tergopoh-gopoh, biasanya mencari orang pintar agar bisa mengetahui pencurinya dengan harapan barangnya bisa kembali. Atau orang yang sudah didera penyakit yang tak kunjung sembuh dengan berbagai obat kedokteran dan ramuan tradisional. Orang pintar seperti Sulis seringkali menjadi ujung dari pengharapan untuk sembuh.

Ternyata, kelebihan yang dimiliki Sulis berasal dari jin. Sehingga masalahnya menjadi sangat terang. Terang bagi siapa saja yang merasa bisa mengobati dengan bisikan-bisikan, bahwa itu usaha jin untuk menyesatkan manusia. Dan terang bagi mereka yang datang untuk meminta bantuan kepada orang seperti itu, karena meminta bantuan kepada jin adalah kesesatan.  

Tetapi banyak yang tidak tahu bahwa itu adalah bisikan jin. Yang lebih parah lagi kesesatan itu dianggap sebagai karamah. Ini juga yang dirasakan oleh Sulis. Pada awalnya, dia pun merasa bahwa semua kelebihan itu dianggap biasa. Kalaupun terjadi dialog dalam hatinya, dia masih memberikan peluang untuk masuknya kelebihan itu ke dalam bagian dari karamah.

Wajar, karena beda antara karamah dan kelebihan dari jin tipis saja. Keduanya sama-sama kelebihan. Kelebihan yang dimiliki bisa jadi sama persis. Tetapi ada ciri jelas untuk mengetahui apakah bisikan itu adalah jin atau karamah. Karamah tidak bisa diulang-ulang sesuai dengan kemauan dari pemiliknya. Karena karamah itu murni hadiah dari Allah. Jadi, kalau ada orang yang selalu bisa menolong dengan bisikannya kepada setiap orang yang datang maka itu adalah sihir. 

Rabu, 21 September 2022

MARAKNYA PEREBUTAN KEPEMIMPINAN YANG BERUJUNG PENYESALAN

“Sesungguhnya kalian akan saling berambisi untuk meraih kepemimpinan, sedangkan kalian akan menyesal kelak pada hari kemudian. Maka berbahagialah orang yang dan celakalah orang yang …”

 

Takhrij Hadits:

Hadits Shahih diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan An-Nasaai serta Imam Ahmad dari Abu Huraerah radhiallahu ‘anhu.

 

Kenyataan yang diramalkan:

Pesta pemilu anggota legislatif baru saja usai. Pesta dengan anggaran trilyunan rupiah itu telah menghasilkan para anggota legislatif yang baru yang katanya berjanji akan berusaha mengeluarkan bangsa Indonesia dari keterpurukan dan krisis yang berkepanjangan. Beberapa parpol menyatakan kecewa dengan hasil pemilu kali ini, bukan hanya karena mereka meraih suara kecil tapi juga karena mereka merasa kecewa dengan proses pemilu yang katanya masih penuh dengan kecurangan-kecurangan bahkan di antara mereka banyak yang menuntut diadakan pemilu ulang meski  itupun bukan jaminan akan bersih dari kecurangan.

Sekarang kita kembali disibukkan dengan pemilu kedua yaitu pemilihan presiden dan wakil presiden yang diperkirakan juga tidak kalah serunya. Buktinya proses penghitungan suara belum saja selesai beberapa parpol sudah kasak kusuk mencari dan mengusulkan calonnya.

Acara “silaturahmi” para tokoh jadi lebih sering dari biasanya. Masyarakat pun bingung melihat tingkah laku para politisi kita. Mereka yang biasanya tampak berseberangan sekarang saling bersalaman dan berangkulan.

Memang, kursi presiden tampaknya merupakan kursi yang sangat keramat dan mahal. Kursi itu banyak membuat orang buta dengan kebenaran sehingga menghalalkan segala cara. Kursi ini juga menjadikan orang hilang akal sehatnya sehingga kawan dan lawan bisa dengan cepatnya berganti. Mereka pun rela berkorban apa dan berapa saja asal bisa jadi presiden. Mereka mengira menjadi presiden adalah puncak ketenaran dan kesejahteraan serta kekuasaaan.

Rabu, 31 Agustus 2022

Berbakti Kepada Orangtua Setelah Tiada



 Meninggalnya orangtua bukan berarti mengakhiri masa bakti kita kepada mereka. Karena masih banyak hal yang bisa dilakukan seorang anak untuk menunjukkan rasa baktinya kepada kedua orangtua, meski mereka telah meninggal dunia. Seperti yang terungkap dalam sebuah hadits.

Abu Usaid berkata, “Ketika saya sedang duduk bersama Rasulullah, tiba-tiba ada orang Anshar datang lalu bertanya, “Ya Rasulullah apakah masih ada yang bisa saya lakukan untuk berbakti kepada kedua orangtua saya setelah mereka meninggal?” Rasulullah menjawab, “Ya. Ada empat (sifat) hal yang bisa kamu lakukan yaitu berdoa dan memohonkan ampun untuk orangtua, melaksanakan janji orangtua, memuliakan teman kedua orangtua dan menyambung silaturahim (atas orang yang) yang tidak ada jalan bagimu kecuali dari kedua oangtuamu. Itulah bakti kepada orangtua yang bisa kamu lakukan setelah mereka meninggal.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Abu Dawud).

Sungguh indah ajaran Islam itu. lantaran itu, beberapa hal berikut seyogyanya terus kita lakukan untuk menunjukkan bakti kita kepada orangtua. Di saat mereka telah meninggal.

 

1. Berdoa dan beristighfar untuk orangtua

Saat manusia telah meninggal, memang dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk menambah pundi-pundi amalnya. Tinggallah menunggu apa yang bisa didapatkan dari sisa-sisa perbuatannya dulu, saat masih hidup. Sementara hari pembalasan adalah suatu kepastian yang tidak bisa ditolak.

Keberuntungan hanya berpihak kepada orang-orang tertentu yang telah mempersiapkan diri menyambut kematian. Bukan dengan sekadar mengumpulkan dan menumpuk uang untuk anak cucunya. Tapi yang lebih penting adalah membelanjakannya pada hal-hal yang bermanfaat untuk terus menambah kadar kebaikannya.

Rabu, 10 Agustus 2022

Imam Ahmad meruqyah dengan air


Air adalah kebutuhan yang sangat vital bagi kelangsungan hidup manusia, binatang dan tumbuhan. Banyak manusia yang kuat bertahan hidup cukup lama tanpa mengkonsumsi makanan, tapi kalau disuruh hidup tanpa air mereka pasti enggan, dan tak akan bisa bertahan lama. Maha benar firman Allah, “Dan telah kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup”.

Dalam dunia ruqyah, air juga bisa dijadikan media untuk pengobatan. Adapun  caranya adalah, ambillah segelas atau semangkok air lalu dekatkanlah ke bibir, kemudian bacalah ayat atau doa ruqyah. Bisa juga dengan membaca ayat dan doa ruqyah terlebih dahulu, lalu ditiupkan ke air. Kemudian diminumkan ke si pasien, atau dibasuhkan ke muka dan kedua tangannya, atau juga dipakai untuk mandi.

Anaknya Imam Ahmad bin Hanbal yang bernama Abdullah pernah bercerita, bahwa dia melihat bapaknya membaca ayat dan doa ruqyah ke air, lalu meminumnya dan mengguyurkan ke badannya sendiri.

Saat meruqyah orang lain, beliau juga pernah menggunakan cara tersebut. Ketika anaknya yang bernama Shalih lagi sakit, Imam Ahmad bin Hanbal mengambil mangkok besar yang berisi air, lalu beliau membaca ayat dan doa ruqyah ke air tersebut. Setelah itu dia (shalih) diperintahkan untuk meminumnya serta membasuh wajah dan tangannya  dengan air tersebut, alhamdulillah dengan ijin Allah penyakitnya sembuh. (Al-Adab Asy-Sar’iyyah: 2/ 441).

 

Selasa, 08 Maret 2022

Saya kelabuhi pasien dengan Energi baterai

Perdukunan penuh dengan kebohongan? Itulah pengalaman hidup yang dijalani Ipon, seorang dukun yang kini telah bertaubat. Dengan berbagai trik, ia mengelabui pasien dan murid-muridnya. Apa yang dilakukan Ipon bisa jadi dilakukan oleh dukun-dukun yang lain. Karena itu, waspadalah dan jangan hiraukan mereka. Bila tidak ingin dikelabuhi. Ipon menuturkan kisah masa lalunya kepada Majalah Ghaib di Cirebon.

 Saya terlahir sebagai manusia biasa dengan bakat melukis. Satu hal yang telah saya geluti sejak remaja. Aktifitas ini menuntut sebuah kemampuan lebih karena mobilitas saya yang terbilang tinggi, berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menggelar pameran atau sekadar menggali ide. Dari sini, mulai terbetik sebuah ide untuk belajar ilmu kesaktian.

Saya ingin memiliki kemampuan lebih, memiliki sesuatu yang bisa saya banggakan di depan teman-teman. Cita-cita itulah yang mengantarkan saya untuk belajar ilmu kebal. Kebetulan, ada orang pintar yang cukup terkenal di tempat saya. Sebut saja namanya Ki Lintar. Kepadanyalah saya menggantungkan harapan.

Untuk menguasai ilmu kebal saya menjalankan puasa mutih 40 hari. Di hari yang keempat puluh, saya hanya minum seteguk air putih. Keesokan harinya saya diuji langsung oleh Ki Lintar. Pagi itu, hanya kami berdua di ruangan perguruannya. Saya melakukan sedikit pemanasan, sementara Ki Lintar telah siap dengan sebongkah batu bata di tangan. Setelah dirasa cukup Ki Lintar melangkah mendekat. Batu bata itu pun hancur terbentur kepala saya. Tidak ada luka. Tidak ada darah.

Untuk sementara, saya berhasil menjadi orang sakti seperti yang saya inginkan. Apapun permintaan Ki Lintar selalu saya kabulkan. Memang, sejak itu Ki Lintar sering meminta uang kepada saya dengan berbagai alasan. Sejatinya uang itu tidak terkait dengan iuran perguruan. Namun, saya tidak bisa berkutik, meski saya sendiri bukanlah dari golongan orang berada yang memiliki banyak uang. Kedudukan saya sebagai murid membuat saya tidak kuasa menolak.

Selasa, 14 Desember 2021

Do’a Rasulullah untuk Kesembuhan Sakit

 

رَبَّنَا اللَّهُ الَّذِيْ فِي السَّمَاءِ، تَقَدَّسَ اسْمُكَ. أَمْرُكَ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ. كَمَا رَحْمَتُكَ فِي السَّمَاءِ، فَاجْعَلْ رَحْمَتَكَ فِي الْأَرْضِ. اغْفِرْ لَنَا حُوْبَنَا وَخَطَايَانَا. أَنْتَ رَبُّ الطَّيِّبِينَ، أَنْزِلْ رَحْمَةً مِنْ رَحْمَتِكَ، وَشِفَاءً مِنْ شِفَائِكَ عَلَى هَذَا الْوَجَعِ.

 

(Robbanalloohul ladzii fis samaa, taqodasasmuk. Amruka fis samaai wal ardh. Kamaa rohmatuka fis samaa’, faj’al rohmataka fil ardh. Ighfir lanaa huubanaa wa khothooyaanaa. Anta robbut thoyyibiin, anzil rohmatan min rohmatik, wa syifaa-an min syifaa-ika ‘alaa haadzal waja’)

 

“Wahai Tuhan kami, Allah yang berada di langit. Maha Suci nama-Mu, urusan-Mu di langit dan di bumi. Sebagaimana rahmat-Mu ada di langit, maka jadikanlah rahmat-Mu di bumi juga. Ampunilah dosa dan kesalahan kami. Engkau Pemelihara orang-orang yang baik, maka turunkanlah sebagian dari rahmat-Mu, dan turnkanlah sebagaian dari kesembuhan-Mu atas penyakit ini”

 

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ –رضي الله عنه- قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَقُوْلُ: مَنِ اشْتَكَى مِنْكُمْ شَيْئًا، أَوِ اشْتَكَاهُ أَخٌ لَهُ، فَلْيَقُلْ: رَبَّنَا اللَّهُ الَّذِيْ فِي السَّمَاءِ، تَقَدَّسَ اسْمُكَ. أَمْرُكَ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ. كَمَا رَحْمَتُكَ فِي السَّمَاءِ، فَاجْعَلْ رَحْمَتَكَ فِي الْأَرْضِ. اغْفِرْ لَنَا حُوْبَنَا وَخَطَايَانَا. أَنْتَ رَبُّ الطَّيِّبِينَ، أَنْزِلْ رَحْمَةً مِنْ رَحْمَتِكَ، وَشِفَاءً مِنْ شِفَائِكَ عَلَى هَذَا الْوَجَعِ. فَيَبْرَأَ. (رواه أبو داود)

 

Abu Darda’ berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Apabila di antara kalian merasa sakit, atau didatangi saudaranya yang merasa sakit, maka berdo’alah; ‘Wahai Tuhan kami, Allah yang berada di langit. Maha Suci nama-Mu, urusan-Mu di langit dan di bumi. Sebagaimana rahmat-Mu ada di langit, maka jadikanlah rahmat-Mu di bumi juga. Ampunilah dosa dan kesalahan kami. Engkau Pemelihara orang-orang yang baik, maka turunkanlah sebagian dari rahmat-Mu, dan turnkanlah sebagaian dari kesembuhan-Mu atas penyakit ini’, niscaya ia akan sembuh’.” (HR. Abu Daud, no. 3394). 

Kamis, 07 Oktober 2021

Kejahiliyyahan di Bulan Suro

Suro adalah nama bulan pertama dalam hitungan kalender Jawa. Kalau dalam kalender Hijriyyah, bulan Suro jatuhnya bertepatan dengan bulan Muharram, yaitu bulan pertama dalam hitungan kalender Islam (Hijriyyah).

Bulan Suro punya nilai istimewa dalam keyakinan mayoritas masyarakat kita, terutama bagi orang-orang Jawa atau yang merasa punya keturunan orang Jawa. Banyak di antara mereka meyakini bahwa bulan Suro merupakan bulan Keramat. Keramat bukan dalam artian mulia, tapi menjurus pada kekuatan mistis dan majic.

 

Ritual Bulan Suro

Entah sejak kapan keyakinan itu muncul dan mewabah di masyarakat Jawa. Yang jelas, sampai sekarang mereka mempunyai agenda ritual tahunan pada bulan Suro ini. Ritual yang bersifat individu, kelompok, atau nasional dalam lingkup wilayah kerajaan di zaman dahulu.

Di antara ritual tersebut adalah memandikan pusaka. Setiap orang yang punya benda pusaka atau yang sejenisnya, pasti menunggu datangnya bulan Suro ini. Mereka berkeyakinan, bahwa bulan ini adalah bulan yang paling tepat untuk meruwat pusaka atau benda keramat lainnya. Mulai dari membersihkan, memandikan, mengganti sarung atau kerangkanya, sampai dengan melakukan ritual khusus lainnya agar ‘kekeramatan’ benda itu tidak sirna, atau supaya makin bertuah.

Beberapa keraton yang masih ada malah punya agenda resmi dan rutin untuk melakukan ritual tersebut secara massal atau besar-besaran. Seperti di Yogyakarta, Surakarta, Cirebon, dan Solo Jawa Tengah.

Tapi ironisnya, di sisi lain ada juga mereka yang meyakini bahwa bulan Suro merupakan bulan sial. Sehingga mereka tidak berani menggelar hajatan di bulan ini. Dalam bulan ini, terutama di 10 hari pertama, mereka melakukan ritual yang diyakini bisa membuang sial. Ada ritual kungkum (mandi berendam) di sungai, sumur, mata air, air terjun, danau, atau tempat pemandian tertentu untuk membuang sial yang melekat di badan. Atau memandikan mobil, motor, sepeda atau peralatan hidup lainnya, agar benda-benda itu tidak membawa sial.

Senin, 26 Juli 2021

Mengobati dengan Bisikan-Bisikan Jin

 

Sulis dengan “kelebihannya” bisa mengobati orang dengan hanya sekedar menjalankan bisikan dalam hatinya atau bisa menebak pencuri dengan foto, hanya sebuah kasus. Tetapi kasus ini sebenarnya mewakili banyak orang di negeri ini.

Kemampuan yang dimiliki Sulis oleh kebanyakan masyarakat kita dimaknai sebagai anugerah dari tuhan, dianggap orang yang linuwih. Intinya, manusia pilihan yang dipilih dari sekian banyak manusia. Itulah sebabnya masyarakat kita merasa biasa saja mendatangi orang seperti Sulis untuk menyelesaikan masalahnya. Apalagi jika orang sedang panik, kehilangan benda berharga umpanya. Dengan tergopoh-gopoh, biasanya mencari orang pintar agar bisa mengetahui pencurinya dengan harapan barangnya bisa kembali. Atau orang yang sudah didera penyakit yang tak kunjung sembuh dengan berbagai obat kedokteran dan ramuan tradisional. Orang pintar seperti Sulis seringkali menjadi ujung dari pengharapan untuk sembuh.

Ternyata, kelebihan yang dimiliki Sulis berasal dari jin. Sehingga masalahnya menjadi sangat terang. Terang bagi siapa saja yang merasa bisa mengobati dengan bisikan-bisikan, bahwa itu usaha jin untuk menyesatkan manusia. Dan terang bagi mereka yang datang untuk meminta bantuan kepada orang seperti itu, karena meminta bantuan kepada jin adalah kesesatan.  

Tetapi banyak yang tidak tahu bahwa itu adalah bisikan jin. Yang lebih parah lagi kesesatan itu dianggap sebagai karamah. Ini juga yang dirasakan oleh Sulis. Pada awalnya, dia pun merasa bahwa semua kelebihan itu dianggap biasa. Kalaupun terjadi dialog dalam hatinya, dia masih memberikan peluang untuk masuknya kelebihan itu ke dalam bagian dari karamah. 

Sabtu, 05 Juni 2021

Terjerembab menjadi dukun

 

Andri (30 tahun): 

Terjerembab menjadi dukun

(menipu banyak orang dengan jimat dan amalan)

Berbagai Penyakit Aneh Datang Menghantuinya 

Hidup sukses adalah impian semua orang. Bekerja dengat giat di perantauan adalah salah satu kunci hidup sukses. Tapi siapa kira, bisa terjerembab menjadi seorang dukun yang banyak merugikan orang lain. Andri namanya. Sekitar satu tahun lebih. Andri berprofesi sebagai dukun yang menjual jimat-jimat palsu. Hatinya bergejolak, menekuni perbuatan terkutuk itu. Berbagi penyakit aneh datang menerpanya. Sampai akhirnya ia kembali ke jalan yang benar setelah penyakitnya dapat disembuhkan dengan terapi ruqyah. Didampingi seorang teman kantornya, Andri menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di Gunungpati, Semarang.

 

           


Selepas lulus dari SMA (1996), seseorang datang menawarkan pekerjaan kepada saya.  Karena sedang menganggur, saya pun langsung tertarik. Sebagai pemuda desa, mendapatkan pekerjaan adalah sebuah kebanggaan. Apalagi orang itu menjelaskan, bahwa pekerjaan yang ditawarkannya bergerak di bidang pengobatan. Ia juga memperlihatkan beberapa buah jimat seperti: akik, keris, rajah dan lainnya. Ia bilang semua jimat tersebut untuk sarana pengobatan.  Terpikir oleh saya, jika memikili jimat-jimat tersebut, mungkin bisa digunakan untuk menolong warga di sekitar sini. Tanpa pikir panjang, saya menerima tawaran itu.. Kami pun segera berangkat….! Dengan segudang harapan, saya tinggalkan kampung halaman serta sanak saudara tercinta. Orangtua yang selama ini memberikan kasih sayang, dengan berat hati juga harus saya tinggalkan, demi mencari sesuap nasi. Sambil memandangi sawah yang terhampar hijau, terbayang, bagaimana keberhasilan beberapa ‘orang pintar’ di desa. Kehidupan mereka boleh dikatakan berkecukupan. Hal itulah yang juga ikut memotivasi saya, sehingga mau ikut bekerja dengannya. Dengan diiringi suara gemiricik sungai, kami berangkat ke kota Tegal.

            Sesampainya di kota Tegal. Saya diajak ke sebuah losmen yang letaknya tidak terlalu jauh dari alun-alun. Di sana telah menunggu 6 orang yang terlebih dahulu bergabung dalam pekerjaan tersebut. Jumlah kami jadi 8 orang. Kemudian kami saling berkenalan. Saat itu, saya belum mengerti benar, apa sebenarnya pekerjaan yang akan saya lakukan. Sambil mereka-reka saya beristirahat sejenak.  Di dalam sebuah kamar, banyak terdapat rajah-rajah bertuliskan huruf-huruf Arab. Ada juga beraneka ragam batu akik.

Suara adzan membahana, memanggil insan beriman untuk menunaikan ibadah shalat. Saya bersegera mencari masjid. Tetapi karena tidak tahu di mana lokasinya, saya terpaksa shalat di losmen. Saya merasa heran! Banyak rajah-rajah bertuliskan Arab di sana, tetapi mereka tidak melaksanakan shalat. Ah, tapi saya tidak berani bertanya macam-macam. Saya kan hanya orang baru di sana.

Rabu, 07 April 2021

BOLEHKAH BERBEKAM SAAT BERPUASA?

Masyarakat kini sudah banyak yang mengikuti sunah nabi untuk melakukan Bekam . Bekam dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah Hijamah, yang artinya adalah pelepasan darah kotor.


 

Bekam banyak manfaat untuk kesehatan. Seperti melancarkan peredaran darah, mengeluarkan racun dari dalam tubuh, mengatasi migrain, mengatasi jerawat, meremajakan kulit, dan menghilangkan noda pada wajah. Bekam bukan hanya dilakukan pria, akan tetapi juga dilakukan oleh para wanita.

Ada  2 pendapat jika melakukan bekam Saat berpuasa

 

1. Batal Puasanya


Hal ini menurut Mazahab Hambali berlandaskan hadist dari Syaddad bin Aus ra, bahwa Rasulullah mendatangi seseorang di Baqi' yang sedang berbekam di bulan Ramadhan. Lalu Beliau bersabda: "Orang yang membekam dan yang dibekam, keduanya batal puasanya." (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

2. Tidak Batal Puasa

Jumhur ulama Maliki, Syafi'i Hanafi berpendapat bahwa berbekam tidaklah membatalkan puasa. Berdasar hadist Rasulullah:

Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: Rasulullah pernah berbekam dalam keadaan ihram dan pernah pula berbekam dalam keadaan puasa. (HR. Bukhari).

Senin, 05 April 2021

Adab Marah


Kemarahan itu tidak ada gunanya. Ia menjadi salah satu pintu masuknya syetan ke dalam diri seseorang. Bahkan bisa dikatakan, kemarahan itu menjadi pintu gerbangnya. Pintu utama masuknya syetan.

Karena itu, sudah sewajarnya bila kita harus hati-hati, kala tanda-tanda kemarahan mulai merasuk ke dalam jiwa. Redam dan lumerkan kemarahan itu, sebelum ia menguasai diri kita dan menghancurkan segalanya. Sebelum terjebak dalam perangkap kemarahan, perhatikanlah beberapa tips berikut ini.

 

1. Jangan biarkan diri Anda terbawa emosi.

Suatu ketika Rasulullah, melewati sekelompok orang yang sedang adu gulat. Ada beberapa petarung di sana. Di antara mereka ada yang selalu memenangkan pertarungan. Rasulullah bertanya kepada salah seorang shahabat, "Apa yang terjadi?". "Tak seorang pun lawan yang maju, kecuali dikalahkannya ….," jawab shahabat.

Dalam pandangan umum, petarung yang selalu mengalahkan lawannya adalah orang hebat. Secara fisik, dapat dipastikan ia orang yang kuat. Hasil dari latihan yang berkesinambungan. Tapi Rasulullah memiliki pandangan lain dalam mendifinisikan orang yang kuat itu.

"Maukah kalian kutunjukkan orang yang lebih kuat dari 'petarung' yang hebat itu?" sebuah pertanyaan yang menggugah rasa penasaran. Rasulullah melanjutkan, bahwa orang yang kuat itu adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah lantaran dicerca maupun dihardik orang lain. Dengan itu ia bisa mengalahkan dirinya, mengalahkan syetan yang menggodanya serta dapat mengalahkan syetan yang menguasai orang yang mencelanya." Imam Ibnu Hajar al-Asyqalani mengatakan bahwa sanad hadits riwayat Bazar ini hasan. (Fathul Bari 10/519)

orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika sedang marah. Ia mampu menjaga lisannya dari ucapan-ucapan yang menyakitkan. Juga dapat mengekang tangan dan kakinya dari tindakan yang tidak diperlukan.

 

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ. متفق عليه

"Orang yang kuat itu bukanlah seorang petarung yang selalu memenangkan pertarungan, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Di atas telah disinggung bahwa kemarahan merupakan pintu gerbang bagi masuknya syetan. Dengan kata lain, orang yang berhasil mengalahkan nafsu amarah dalam dirinya, berarti dia berhasil mengalahkan syetan. Tindak-tanduknya selalu terkontrol dan tidak terbawa emosi.

Jumat, 19 Februari 2021

Adab Bergaul

g. Bermuka Manis

            Mata adalah pancaran jiwa. Wajah adalah cerminan hati. Rasa suka dan gembira dapat terbaca dari sana, sebagaimana perasaan sedih dan benci juga bisa terurai dari keduanya.

            Bermuka manis bukan berarti harus tampan, bukan pula harus cantik. Wajah tampan dan juga cantik bila selalu cemberut dan 'sengit' juka malah akan membuat orang yang melihatnya merasa bosan. Bermuka manis adalah bahasa tubuh yang bisa dibaca oleh orang sedang bergaul dengan kita, bahwasanya kita senang bergaul dengannya, kita menghormatinya, kita menghargainya, sehingga menjadikan orang tersebut merasa nyaman setiap kali berada di dekat kita.

            Muka manis tak ubahnya seperti jembatan cinta yang menghubungkan antara hati kita dengan saudara, teman maupun tetangga kita. Ketika muka yang manis itu selalu terkembang dari dua orang yang bersaudara, bersahabat, bertetangga di saat keduanya saling bertemu, maka seolah pertemuan itu bukan sekedar pertemuan fisik semata, melainkan juga pertemuan antara hati dengan hati. Jiwa dengan jiwa. Penuh kesan. Penuh makna. Penuh arti. Subhanallah, dan inilah bumbu pelezat utama dalam sebuah pergaulan, yang akan menjadikan hubungan kita lebih akrab dan lebih indah. Tanpanya pergaulan akan terasa hambar. Kaku. Membosankan.

            Sungguh, muka yang manis saat bertemu dengan saudara dan teman, dengan bingkai guratan-guratan senyuman ramah, ditambah dengan pancaran mata yang bersahabat yang indah, akan memberikan kedalaman makna bagi hati serta pengaruh yang luar biasa bagi jiwa. Bahkan kedalaman makna dan pengaruhnya itu lebih dahsyat dari sekedar kata yang teruntai atau bingkisan parsel yang kita beri.

            Ath-Thabrani meriwayatkan hadits marfu' dari Abu Hurairah ra.: "Sesungguhnya dua orang muslim yang bertemu, lantas saling berjabat tangan dan saling bertanya, maka Allah akan menurunkan kepada keduanya seratus rahmat, sembilan puluh sembilannya untuk orang yang paling berseri wajahnya, paling ceria mukanya, dan yang paling baik serta paling puji masalahnya (permintaannya) dari keduanya kepada saudaranya." (Kitab Gidzāul Albāb Fi Syarhi Mandlumatil Adab)

            Ada riwayat lain yang masih ada kaitannya dengan urgensi bermuka manis.

عَنْ أبِيْ أمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (أَناَ زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةَ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ، وَإِنْ كَانَ مُحِقاً، وَبِبَيْتٍ فِيْ وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ، وَإِنْ كَانَ مَازِحاً، وَبِبَيْتٍ فِيْ أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ) حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ، رَوَاهُ أبُوْ دَاُوْدَ بِإِسْناَدٍ صَحِيْحٍ.

            Dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah Saw bersabda: "Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perselisihan meskipun ia benar, dan rumah di tengah surga bagi orang yang meningalkan dusta sekalipun dalam canda, serta rumah di tempat tertinggi di surga bagi orang yang baik akhlaknya." (Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad shahih)

Kamis, 07 Januari 2021

Tobatnya Sang Intelejen

 

Suraqah bin Malik Al-Madlaji

 Suatu pagi di kota Makkah. Para pembesar Quraisy hampir serentak bangun dari tidurnya. Mereka bangun sambil marah-marah dan saling menyalahkan. Betapa tidak, Muhammad buronan mereka yang semalaman diintai dan diincar, lolos dari kepungan. Padahal mereka tinggal menunggu saat yang tepat untuk melakukan pembunuhan yang sudah terencana dengan sangat rapih.

Merekapun seperti kebakaran jenggot melihat gagalnya rencana besar mereka. Serta merta mereka mendatangi kediaman Abu Bakar Ash-Shiddiq yang menjadi shahabat terdekat Muhammad, namun yang didapati hanya Asma’ putri Abu Bakar. Mendengar jawaban ketidaktahuan keberadaan Abu Bakar dan Muhamad, Asma pun mendapat tamparan keras dipipinya. Selanjutnya para kafir Quraisy ini sepakat melakukan pengejaran yang mereka yakini bahwa buronan mereka pasti belum jauh kaburnya.

Dengan pengalaman dan pengenalan medan yang sempurna mereka atur strategi pengejaran sehingga hampir dipastikan tidak ada tempat yang luput dari pencarian mereka. Dengan amarah yang sudah sampai ubun-ubun mereka pacu kuda-kuda mereka, tekad mereka bulat menangkap Muhammad hidup atau mati.

Ketika para pengejar ini tiba di sekitar Gua Tsur, mereka berhenti dan ingin memeriksa wilayah itu dengan seksama. Mereka yakin bahwa Muhammad tidak akan sampai lebih jauh dari wilayah ini. Mereka pun menyebar dan menyisir wilayah itu.

Sementara itu Muhammad bersama shahabat setianya tengah bersembunyi di dalam Gua Tsur. Tampak Muhammad dengan tenang istirahat tidur di pangkuan Abu Bakar karena kelelahan. sedangkan Abu Bakar tampak khawatir, kaki-kaki para pencari jejak tampak jelas lalu lalang di mulut gua. tidak terasa air matanya mengalir dan menetes jatuh di muka Rasulullah. Rasulullah pun terbangun dan bertanya, “Mengapa engkau menangis, wahai Abu Bakar?”.

“Demi Allah, bukannya saya khawatir akan jiwa saya. Namun bagaimana jika hal ini terjadi pada Anda. Seandainya mereka menengok di tempat kaki mereka berpijak niscaya mereka akan melihat kita.” jawab Abu Bakar.

“Jangan takut, wahai abu Bakar. Sesungguhnya Allah bersama kita.” kata Nabi menenangkan hati shahabatnya. Allah pun menenangkan hati Abu Bakar.

Adapun para pencari jejak merasa putus asa setelah sekian lama mencari namun hasilnya nihil. Abu Jahal yang turut dalam rombongan itu berkata,”Demi Lata dan Uzza, saya yakin Muhammad ada di sekitar kita dan mendengar suara kita, tapi sihir Muhammad menahan penglihatan kita.”

Mereka akhirnya kembali dengan tangan hampa. Namun usaha mereka tidak berhenti sampai di situ. Mereka mengumumkan semacam sayembara dengan hadiah seratus ekor unta betina bagi mereka yang berhasil menangkap Nabi Muhammad hidup atau mati.

Minggu, 22 November 2020

Do’a Rasulullah untuk Kesembuhan Sakit


 

رَبَّنَا اللَّهُ الَّذِيْ فِي السَّمَاءِ، تَقَدَّسَ اسْمُكَ. أَمْرُكَ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ. كَمَا رَحْمَتُكَ فِي السَّمَاءِ، فَاجْعَلْ رَحْمَتَكَ فِي الْأَرْضِ. اغْفِرْ لَنَا حُوْبَنَا وَخَطَايَانَا. أَنْتَ رَبُّ الطَّيِّبِينَ، أَنْزِلْ رَحْمَةً مِنْ رَحْمَتِكَ، وَشِفَاءً مِنْ شِفَائِكَ عَلَى هَذَا الْوَجَعِ.

 

(Robbanalloohul ladzii fis samaa, taqodasasmuk. Amruka fis samaai wal ardh. Kamaa rohmatuka fis samaa’, faj’al rohmataka fil ardh. Ighfir lanaa huubanaa wa khothooyaanaa. Anta robbut thoyyibiin, anzil rohmatan min rohmatik, wa syifaa-an min syifaa-ika ‘alaa haadzal waja’)

 

“Wahai Tuhan kami, Allah yang berada di langit. Maha Suci nama-Mu, urusan-Mu di langit dan di bumi. Sebagaimana rahmat-Mu ada di langit, maka jadikanlah rahmat-Mu di bumi juga. Ampunilah dosa dan kesalahan kami. Engkau Pemelihara orang-orang yang baik, maka turunkanlah sebagian dari rahmat-Mu, dan turnkanlah sebagaian dari kesembuhan-Mu atas penyakit ini”

 

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ –رضي الله عنه- قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَقُوْلُ: مَنِ اشْتَكَى مِنْكُمْ شَيْئًا، أَوِ اشْتَكَاهُ أَخٌ لَهُ، فَلْيَقُلْ: رَبَّنَا اللَّهُ الَّذِيْ فِي السَّمَاءِ، تَقَدَّسَ اسْمُكَ. أَمْرُكَ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ. كَمَا رَحْمَتُكَ فِي السَّمَاءِ، فَاجْعَلْ رَحْمَتَكَ فِي الْأَرْضِ. اغْفِرْ لَنَا حُوْبَنَا وَخَطَايَانَا. أَنْتَ رَبُّ الطَّيِّبِينَ، أَنْزِلْ رَحْمَةً مِنْ رَحْمَتِكَ، وَشِفَاءً مِنْ شِفَائِكَ عَلَى هَذَا الْوَجَعِ. فَيَبْرَأَ. (رواه أبو داود)

 

Abu Darda’ berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Apabila di antara kalian merasa sakit, atau didatangi saudaranya yang merasa sakit, maka berdo’alah; ‘Wahai Tuhan kami, Allah yang berada di langit. Maha Suci nama-Mu, urusan-Mu di langit dan di bumi. Sebagaimana rahmat-Mu ada di langit, maka jadikanlah rahmat-Mu di bumi juga. Ampunilah dosa dan kesalahan kami. Engkau Pemelihara orang-orang yang baik, maka turunkanlah sebagian dari rahmat-Mu, dan turnkanlah sebagaian dari kesembuhan-Mu atas penyakit ini’, niscaya ia akan sembuh’.” (HR. Abu Daud, no. 3394). 

Minggu, 11 Oktober 2020

Do’a Berlindung dari Sifat Pengecut


Do’a Ma’tsur 


اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ،

وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

 

Sesungguhnya Rasulullah berlindung darinya setelah usai shalat: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut, dan aku berlindung kepada-Mu dari kepikunan (di waktu tua), dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia, dan aku berlindung kepada-Mu dari adzab Kubur"

 

عَمْرَو بْنُ مَيْمُوْنٍ اْلأَوْدِيُّ قَالَ: كَانَ سَعْدٌ يُعَلِّمُ بَنِيْهِ هَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ،

كَمَا يُعَلِّمُ الْمُعَلِّمُ الْغِلْمَانَ الْكِتَابَةَ، وَيَقُولُ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْهُنَّ دُبُرَ الصَّلاَةِ: اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ،

وَأَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا،

وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ. فَحَدَّثْتُ بِهِ مُصْعَبًا فَصَدَّقَهُ.

(رواه البخاري)

 

Amr bin Maimun al-Audiy berkata, “Adalah Sa’ad mengajarkan kepada anak-anaknya beberapa kaliamt, sebagaimana seorang guru mengajarkan cara menulis kepada murid-muridnya. Dia berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah berlindung darinya setelah usai shalat: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut, dan aku berlindung kepada-Mu dari kepikunan (di waktu tua), dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia, dan aku berlindung kepada-Mu dari adzab Kubur.’ Dan aku pun menceritakannya kepada shahabat Mush’ab, dan ia pun membenarkan (hadits) tersebut.” (HR. Bukhari, no. 2610).

Rabu, 02 September 2020

Disihir Saudara Sendiri, Dua Bulan Tidak Bisa Tidur

 

Sulastri (Penderita Insomnia):


Harta warisan, terkadang menjadi biang keladi perselisihan antar saudara. Dalam situasi seperti ini tidak jarang dukun pun bertindak. Ironis memang, harta yang dikumpulkan orangtua dengan susah payah akhirnya menjadi awal bencana bagi anak-anaknya. Itulah sepenggal kisah Sulastri yang tidak bisa tidur dua bulan lamanya karena santet. Dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, ibu beranak satu itu menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di Bogor. Berikut petikan kisahnya.

 

Awalnya saya tidak tahu bahwa penyakit yang saya derita selama ini disebabkan oleh sihir. Karena gejalanya itu seperti sakit medis biasa. Saya hanya merasakan demam yang cukup tinggi dan tenggorokan terasa gatal. Hal ini mulai saya alami pada pertengahan minggu kedua bulan Februari tahun 2004. Untuk itu saya berobat ke dokter di Bogor. Setelah menjalani  terapi, dokter bilang saya mengidap radang tenggorokan. Dan saya diberi resep obat yang harus dibeli di apotik. Namun, setelah obatnya habis, demam yang saya rasakan itu belum juga menurun. Yang lebih memperparah keadaan adalah saya juga selalu was-was.

Memang setahun yang lalu saya pernah menderita sakit demam berdarah, sementara berita di koran-koran mengatakan bahwa radang tenggorokan ada hubungannya dengan demam berdarah. Dari sinilah rasa takut itu semakin mencekam, “Aduh… saya sakit demam berdarah kali?.” Akibatnya saya tidak bisa tidur. Untuk itu saya mengikuti tes darah. Namun hasilnya negatif, saya dinyatakan tidak mengidap demam berdarah, tipes maupun lever. Diagnosa dokter tetap tidak berubah, saya dinyatakan sakit radang tenggorokan.

Entahlah, hari-hari berikutnya tidak ada perubahan. Karena itu dengan berbekal hasil tes laboratorium di Bogor, saya berangkat ke Jakarta bersama anak saya yang masih kelas 6 SD. Saya ingin mengetahui penyakit apa yang sebenarnya saya alami, untuk itu saya berobat ke RS Pertamina. Di sini saya mendesak dokter untuk mengulangi tes darah. Namun, hasilnya tetap nihil, sampai ada dokter yang mengatakan, “Coba ibu diperiksa malaria.” Saran dokter ini saya coba ikuti. Namun ketika bertemu dengan dokter yang lain dia melarang. “Tidak usah periksa ini. Karena ini cuma radang tenggorokan biasa.”

Saya mencoba bertahan di Jakarta, namun akhirnya saya harus mengambil keputusan untuk kembali ke Bogor dengan tidak membawa hasil yang cukup berarti. Hal ini tidak lain karena anak saya sudah seminggu lebih tidak masuk sekolah. Saya tidak ingin sekolahnya terganggu. Saat itu saya masih belum berpikir bahwa apa yang saya alami ini ada hubungannya dengan gangguan jin. Maka sesampai di Bogor saya tetap berobat secara medis.

Meski berbagai jenis antibiotik sudah saya coba dan dengan dosis yang semakin lama semakin tinggi, tapi tetap saja tidak ada perubahan. Siang maupun malam saya masih tetap tidak bisa memejamkan mata. Dalam keadaan demikian saya merasa seperti seorang diri. Suami yang biasanya memberi ketenangan itu sudah tiga tahun berada di negeri seberang. Sedih dan kesepian bercampur aduk menjadi satu. Apalagi bila teringat dalam sehari saya bisa mengeluarkan uang enampuluhan ribu untuk menebus obat. Padahal setelah obatnya habis dada saya langsung deg-degan, “Aduh, obatnya sudah habis.” Selanjutnya saya harus menebus kembali resep yang baru.

Sekian banyak obat-obatan itu tetap saja tidak mengurangi derita yang saya alami. Bahkan boleh dibilang semakin lama semakin berat. “Saya akan masuk rumah sakit. Saya akan masuk rumah sakit” kekhawatiran itulah yang pada akhirnya memaksa saya untuk bolak-balik berobat ke Jakarta hingga empat kali. Sudah berjuta-juta uang keluar tapi anehnya penyakit saya tetap tidak ditemukan.