Jumat, 29 November 2013

Alamat Ruqyah Syar'iyyah Jakarta, Menjadi Homo Karena Jin Waria



Sodomi adalah kejahatan yang sangat kejam dipandang dari sudut apapun. Terlebih bila yang menjadi korban adalah anak-anak. Kemungkinan mengalami penyimpangan seksual di kemudian hari sangatlah besar. Seperti yang dialami Nanang (Nama Samaran), lelaki yang baru melangsungkan pernikahan 6 bulan yang lalu menceritakan kisah Ahad kelabu kepada Majalah Ghoib. Berikut petikan kisahnya.
Nanang, begitulah biasanya saya dipanggil. Saya lahir di Rembang, Jawa Tengah 28 tahun yang lalu dari keluarga tentara. Seperti karakter orang Jawa kebanyakan, bapak itu orangnya pendiam, wataknya lembut. Sangat bertolak belakang dengan anggapan sebagian orang bahwa tentara itu keras. Saya sendiri sebagai anak tentara tidak bisa menyalahkan bayangan mereka yang demikian. Sedangkan ibu adalah tipe orang yang suka mengalah tidak ingin membuat keributan dengan orang lain.
Sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, watak saya sangat jauh berbeda dengan kedua kakak saya. Kebetulan kakak yang pertama adalah seorang Perempuan yang tomboy. Mungkin ia terbawa dengan keseharian kami yang tidak terlepas dari dunia ketentaraan. Sedangkan kakak yang kedua, sama seperti saya, laki-laki. Bedanya kakak laki-laki saya orangnya itu tidak sabaran kurang telaten. Diantara kedua orang tua, saya lebih dekat kepada ibu. Mengapa demikian saya tidak tahu.
Mungkin karena sedari kecil, Ibu mendidik saya menguasai pekerjaan wanita. Saya sudah terbiasa memasak atau belanja keperluan dapur ke pasar. Ibu memang lebih senang menyuruh saya daripada kedua kakak yang lebih suka dengan dunia mereka, dunia anak-anak.
Saya tidak tahu apakah kebiasaan melakukan pekerjaan wanita pada akhirnya akan mempengaruhi kejiwaan saya. Yang jelas, saya pernah menladi korban kebrutalan seks seorang laki-laki yang masih satu asrama dengan saya. Peristiwa kelabu yang sangat membekas dalam jiwa saya hingga sekarang. Kejadiannya terjadi belasan tahun yang lalu, tepatnya saat saya masih kelas 5 SD.

Ruqyah Syar'iyyah, Sakit di Kaki Selama 7 Tahun yang Tidak Terdeteksi Medis


Malam itulah awal dari keanehan demi keanehan terjadi dalam hidup saya. Pada saat jam menunjukkan pukul 01.30 malam, saya merasa ada yang membangunkan. Terasa betul kaki saya dipukul-pukul agar bangun. Hanya saja, saya berfikir untuk menunda bangun. Saya pikir yang memukul kaki saya adalah teman saya yang tidur di samping saya. "Ya nanti dululah …" kata saya. Karena saya dipukul lebih keras, akhirnya saya bangun dan duduk di pinggir tempat tidur. Saya melihat di kamar itu ada makhluk seperti manusia tetapi pendek botak dan berkulit putih. Pakai baju kotak-kotak merah putih dengan celana pendek hitam. Tapi saya tidak bisa melihat matanya.
Saya orang Pekanbaru asli. Sebagai orang kelahiran sana, saya menamatkan SD, SMP, SMA di Pekanbaru. Sedangkan kuliah, saya mengambil D3 Akademi Perawat di Padang. Setelah tamat saya ingin melanjutkan S1 di UI Jakarta atau Unpad Bandung. Ujian masuk FIK (Fakultas Ilmu Keperawatan) Unpad dilaksanakan lebih dahulu dibandingkan UI. Selesai ujian, saya segera menuju Jakarta untuk mengikuti ujian masuk FIK UI Salemba Jakarta.
Di Jakarta saya menginap di rumah sepupu saya di komplek Taman Mini, Jakarta Timur. Rumahnya tidak luas. Kamar yang saya tempati berukuran 3x2 meter. Tempat tidurnya ukuran single. Di kamar itu ada satu lemari, satu meja belajar, jendela menghadap ke jalan dan tempat tidur di samping jendela. Malam itu saya tidur di samping jendela. Malam itu saya tidur bersama teman saya dari Padang yang juga akan ikut ujian di UI pada fakultas yang sama. Karena tempat tidurnya sempit, maka kami tidur saling miring.
Sementara di ruang depan, empat saudara laki-laki saya asyik menunggu jadwal pertandingan final piala dunia 1998 antara Brazil dan Prancis yang bertepatan dengan malam Sabtu, dimana keesokan harinya saya mengikuti tes UMPTN/SPMB. Sebelum tidur, saya sempat berdoa agar bisa bangun malam untuk shalat tahajud dan berdoa.

Mengunci Lapangan Bola dengan Pagar Ghoib



KUTINGGALKAN tanah kelahiranku di Sumatera di pertengahan tahun. Kuturuti kata hati. Merantau ke tanah jawa demi cita-cita yang membuncah di jiwa. Bukan gelar dokter atauinsinyur yang ingin kusandang. Atau atribut duniawi lainnya. Aku hanya ingin menyambungcita-cita orangtua yang belum kesampaian. Mereka telah lama ingin mendirikan pesantren. Tapi apalah daya. Keterbatasan pemahaman agama membatasi gerak mereka.
Sebuah pesantren di jawa Tengah menjadi labuhan harapan. Puluhan kitab berbahasa Arab mulai menjadi harian. Aku terbilang anak yang menonjol di kelas. Setelah menamatkan satu kitab, kami menerima amalan atau lelakon yang harus dijalani. Setiap kitab berbeda amalannya. Ada yang harus puasa tiga hari. Ada yang satu minggu. Atau merapal wirid dalam bilangan tertentu. Dan ada pula yang pantang menyantap makanan yang bernyawa. Tiap hari mereka hanya mengkonsumsi makanan nabati. Baik dari dedaunan atau yang lainnya. Dalam setahun, setidaknya aku menamatkan tiga puluhan kitab. Sudah bisa dibayangkan bagaimana kehidupan santri di sana. Ya, kuakui tujuh puluh lima persen santri mengamalkan berbagai amalan-amalan itu.
Mulanya, aku termasuk orang yang malas amalan puasa. Di tahun kedua, aku mulai bersemangat. Puasa mutih tujuh hari kulalap begitu saja. Puasa mutih nemang terbilang berat, terlebih bila di hari ke tujuh aku tidak makan dan minum dan tidak tidur selama dua puluh empat jam. Sejak itu, berbagai jenis amalan dan lelakon mulai kulahap. Keinginan yang kuat agar pulang dengan membawa hasil membuatku pantang menyerah. Lulus dari satu ujian kuikuti ujian berikutnya. Tetap dengan keyakinan yang sama. Aku tidak ingin mengecewakan orangtua. Sampa! pada titik ini, aku merasa telah berbuat maksimal. Baik di kelas maupun di luar kelas. Berbagai jenis tempaan batinpun tak lepas dari incaranku. Aku pernah tirakat tidak makan nasi putih selama setahun. Bukan karena mengidap penyakit tertentu dan dilarang oleh dokter. Tapi lebih karena nasi putih adalah pantangan dari tirakat yang sedang kulakoni. Setiap hari aku hanya makan gorengan atau mie instant. Tak lagi kupertanyakan mengapa tidak boleh makan nasi saat menjalani lelakon tertentu. Karena kudapatkan ilmu tersebut di pesantren.

Karena Sihir Aku dipanggil Neng, Ibu atau Nenek



Mendapat tiga nama panggilan berbeda itu hal biasa.Di sekolah dipanggil Rinto, di rumah dikenal dengan nama Tobing. Panggilan sesama teman pun berbeda. Tapi bila panggilan tersebut berkaitan dengan umur, ini baru aneh. Pagi dipanggil neng, siang dipanggil mbak, sore dipanggil bu atau nenek. Padahal orangnya sama. Usianya pun tidak banyak berubah. Semua itu dialami Novi karena sihir kerabat sendiri. Novi menceritakannya kepada Majalah Al-lman ditemani ibunya. Berikut petikannya. 
Tujuh tahun lalu, saat lebaran Idul Fitri. Aku pulang ke kampong halaman di daerah Semarang Jawa Tengah. Aku rindu dengan nenek yang selama ini suaranya hanya kudengar melalui telepon. Aku memang terbilang jarang pulang kampung. Bukan sombong lantaran dibesarkan di kota besar, tapi kesempatan untuk pulang kampung memang sulit kudapatkan. Usiaku yang masih belasan tahun, menjadi kendala tersendiri. Ibu tidak rela melepaskanku pulang sendiri ke kampung halaman.
Sementara jadwal liburan sekolah tak jarang juga berbenturan dengan kegiatan orangtua. Kerinduanku pada nenek kulampiaskan melalui telepon. Suaranya yang lembut memberi kehangatan tersendiri. Terbayang betapa enak tidur di pangkuan nenek. Dibelai dan dimanja-manja di beranda rumah sambil melihat hamparan sawah yang menghijau.
Rumah nenek terletak di diujung desa. Langsung berbatasan dengan sawah yang ditumbuhi padi. Hanya dipisahkan oleh jalan desa yang berbatu. Sebatang pohon mangga bertengger di sebelah kiri. Sementara di bagian kanan ditumbuhi pohon belimbing. Kondisi alam pedesaan yang sunyi dan damai itulah yang menambah kerinduanku pada kampung halaman.
Seperti biasa. Rumah nenek menjadi tempat perkumpulan anak dan cucunya di hari lebaran. Hadir juga adik ibu yang biasa kupanggil dengan Bibi lta. Ia ditemani suaminya, Om Aji. Dengan Bibi lta, aku sudah sering ketemu. Nyaris tiap pulang kampung, ia menyempatkan diri menemui ibu yang juga kakak kandung nya. Sedangkan dengan Om Aji, aku baru pertama kali bertemu dengannya. Bapak dan ibu juga baru pertama bertemu dengan Om Aji.

Anak Saya Korban Was-was Syetan



Anak melawan orangtua? Nampaknya sulit dipercaya. Tapi demikianlah kenyataannya. Berbagai media memberitakan kekerasan yang dilakukan seorang anak kepada orangtuanya. Bahkan ada yang tega membunuh orang yang telah melahirkan dan membesarkannya. Naudzubillah. Namun sayang, tidak banyak orang yang mengaitkan kenakalan anak itu dengan jin. Hingga penyelesaiannya pun berlarut-larut. Padahal, sangat dimungkinkan kenakalan anak itu akibat gangguan jin dalam dirinya. Meski dengan alas an yang berbeda-beda. Seperti kisah Ibu Han. Bertahun-tahun ia harus mengepel, mencuci, atau mengelap buku anaknya tanpa alas an yang jelas. Ibu Han menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di rumahnya. 
Di pinggiran Jakarta Selatan, saya memilih sebuah komplek perumahan sebagai tempat melabuhkan harapan. Disebuah rumah yang sederhana tipe 50. Halamannya rindang. Ditumbuhi bunga dan pohon mangga. Efektif untuk menahan sinar matahari menembus rumahku. Komplek perumahan ini berada di lingkungan yang asri, jauh dari polusi ibukota yang kian menyesakkan dada. Dari sini saya ingin membangun surga bersama Mas Riko, pemuda pilihanku. Kami ingin mewujudkan impian setiap insan yang telah menyempurnakan separuh agamanya.
Waktu terus merambat. Jalinan kasih kami melahirkan dua anak lelaki. Rian dan Dino. Anak-anak yang manis dan lucu. Rian bermata bulat. Sedang Dino berkulit kuning. Badannya lebih atletis dari kakaknya. Hari demi hari kureguk kebersamaan dengan orang-orang yang kucintai. Kehadiran anak-anak dalam dunia kami menambah kebahagiaan ini. Dunia terasa lengkap oleh celoteh dan keluguan mereka.
Waktu terus merangkak tanpa bisa dihentikan. Anak pertama saya telah duduk di bangku SMA. la memilih tinggal bersama neneknya yang tidak perlu naik mobil untuk sampai ke sekolah. Saya bersyukur, Rian diterima di SMA unggulan di Jakarta. Tinggallah Dino yang mengisi keseharianku.