Senin, 30 September 2013

Telur Bertuah Karena “Diisi”



Saya terlahir sebagai anak tunggal. Ayah meninggal sebelum saya dilahirkan. Ibu menikah lagi ketika saya berumur 9 tahun. Keluarga saya termasuk keluarga yang boleh dikatakan taat beribadah, tapi untuk masalah klenik sangat kental. Keluarga kami mempercayai seseorang yang dianggap “pinter”. Sehingga kalau ada sesuatu pasti akan meminta bantuan padanya. Kami tidak menyebutnya dukun karena dalam prakteknya membawa Islam, baik tulisan, do’a, maupun bacaannya. Kami menyebutnya sebagai orang yang ngerti. Karena saya anak tunggal, maka ibu sangat protektif terhadap saya. Sehingga saya dilarang rekreasi ke tempat yang dianggap wingit/angker, seperti pantai, sumber air, hutan dan lai-lain. Ibu takut kalau saya jadi korban mahkluk halus.
Saya masih ingat waktu SD, ketika itu orang sedang ramai-ramainya membicarakan tentang adanya penculikan terhadap anak untuk dijadikan “lebon” atau korban persembahan untuk pembangunan jembatan atau lainnya. Ibu sangat panic. Ibu meminta tolong kepada “orang pinter” tersebut agar saya selamat. Ibu diberi beberapa macam kembang yang diberi minyak wangi sehingga baunya sangat menyengat. Saya disuruh meminum kembang tersebut setelah dicampur dengan air selama beberapa hari. Rasanya mau muntah, tapi saya tidak bisa menolak karena itu katanya demi keselamatan saya.
Ketika kelas tiga MTs, saya ikut asrama. Baru beberapa hari di asrama, sebelah mata saya berwarna merah, tapi anehnya saya tidak merasakat sakit, perih atau ngeres. Kata orang lain mata saya sakit. Ibu panic, apalagi ibu bermimpi melihat saya sedang dicabik-cabik oleh monyet untuk dimakan. Kemudian ibu pergi ke “orang pinter” dan katanya penyakit mata saya itu bukan sakit mata biasa, tapi itu pertanda bahwa saya akan dikadikan korban persembahan untuk monyet ingon-ingone pemilik asrama. Karena kejadian itu maka saya langsung disuruh pulang, tidak usah di asrama.

Saya sudah tidak ingat lagi, berapa kali saya dicarikan jimat. Mungkin sejak membawa jimat-jimat itu pula saya selalu mengalami kegelisahan/ketakutan waktu tidur. Orang Jawa mengatakannya sebagai kelindihen. Walaupun saya sudah baca ayat-ayat al-Qur’an dan do’a-do’a. Saya alami ini + 15 tahun. Kelindihen ini tidak hanya terjadi pada malam hari, tapi ketika tidur siangpun saya sering mengalaminya. Karena itulah, maka saya selalu berusaha mencari teman tidur atau tidak mengunci pintu kamar, agar nanti orang dapat dengan membangunkan saya ketika kelindihen.
Saya juga pernah disuruh makan telur ketika mau EBTANAS. Telur itupun tak jauh beda dengan air kembang. Telurnya ditulisi dengan huruf-huruf yang mirip dengan huruf Arab, baunya sangat wangi dan menyengat. Telur direbus untuk dimakan, sedang cankangnya disimpan di dompet sebagai tameng keselamatan. Saya pun melakukan karena ketidaktahuan saya. Bahwa itu adalah salah satu dari kesyirikan.
Ketika kuliah semester VI, saya mencoba melamar ke sebuah lembaga pendidikan Islam (LPI), dan Alhamdulillah, saya diterima. Dari LPI inilah saya mendapatkan banyak ilmu agama yang selama ini belum saya ketahui. Saya mulai mengerti bahwa jimat yang saya bawa selama ini ini bagian dari kemusyrikan. Jimat yang selama ini saya simpan, saya buang semua, tentu saja tanpa sepengetahuan ibu. Setelah saya buang jimat-jimat tersebut, alhamdulilah saya dapat tidur dengan nyenyak. Saya juga jarang mengalami  . Pikiran saya jadi tenang dan hatipun tentram. Dari LPI ini pula saya mulai tahu Majalah Ghoib. Ketika pertama kali baca, saya langsung tertarik. Sepertinya Majalah Ghoib bisa membantu saya membersihkan akidah saya yang kotor, menambah ilmu saya dan orang lain. Amin.
Waktu ada pendaftaran CPNS tahun ini, ibu sangat berharap saya dapat lolos seleksi. Ibupun ikut berusaha dengan do’a dan pergi ke “orang pinter”. Kali ini ibu diberi telur. Saya menolak memakannya dengan alas an saya tidak suka ayam kampong dan baunya sangat wangi. Ibupun kembali ke o”rang pinter” tersebut dan diganti dengan telur biasa dan tanpa bau wangi. Saya tetap menolak makan dengan alas an trauma yang dulu, yaitu muntah-muntah. Mendengar itu ibu sangat marah dengan mengatakan kalau saya tidak mau mekan telur itu berarti saya ingin membunuh ibu. Saya sangat kaget. Bagaimana bisa, ibuu mengatakan hal itu, padahal ibu adalah ibu yang paling sabar, jarang marah dan tidak banyak bicara. Akhirnya malam itu saya makan dengan ditunggui ibu, karena ibu takut kalau saya tidak makan telur tersebut. Walaupun cuma sedikit, sebagai syarat. Ketika ibu pergi, saya cepat-cepat membuang telur tersebut tanpa sepengatahuan ibu. Cangkangnya yang sudah dibungkus ibu itu langsung saya lempar ke atas lemari. Tapi disini saya sudah tidak percaya lagi tentang cangkang telur itu.
Bentuk Jimat
Jimat ini adalah telur ayam biasa, berbentuk bulat oval, yang ditulis dengan huruf-huruf tak dimengerti, lalu direbus dan isinya dimakan.
“Kesaktian” Jimat
Telur yang telah dibaca-bacakan ini diyakini bisa menjaga pemakannya dari bahaya, sebagai tameng keselamatan dan bisa menghasilkan maksud dan tujuan.
Bongkar Jimat
Takut. Semua orang pasti pernah merasakanya. Takut kalau-kalau kesehatannya tidak kembali seperti semula, takut kalau keinginannya tak tercapai, takut kalaukeselamatannya terancam, dan rasa takut lainnya. Dalam al-Qur’an Allah menjelaskan bahwa rasa takut adalah ujian. Allah berfirman, “Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan … “ (QS. Al-Baqarah: 155)
Seperti ketakutan yang dialami oleh seorang Ibu yang tinggal di Jawa Timur ini terhadap keselamatan anaknya. Saking takutnya, sehingga kebebasan sang buah hati dibelenggu. Namun cara antisipasi yang dilakukan oleh ibu itu tidak tepat bahkan boleh dibilang salah. Bukannya memohon kepada Allah,malah meminta pertolongan kepada “orang pinter”, yang sama lemahnya dengan dirinya. Tidak hanya sampai disitu, karena rasa sayangnya terhadap sang buah hati, sehingga nalar sehatnya sudah tidak tidak dipergunakan lagi, atau mungkin karena ketidaktahuannya. Anaknya dipaksa meminum air kembang yang dicampur dengan minyak wangi, yang tentu rasanya tidak enak, dan aromanya membuat muntah. Itu katanya untuk menjaganya dari marabahaya.
Ataupun ketika anaknya sedang ujian CPNS, disamping memohon kepada Allah, dia juga meminta bantuan kepada “orang pinter” untuk memuluskan jalan putrid tercintanya agar diterima menjadi Pegawai Negeri. Dan cara ini tidak dibenarkan. Mengapa tidak hanya memohon kepada Allah, yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Padahal  Allah berjanji, siapa saja yang berdo’a kepada-Nya, niscaya Dia akan mengabulkan do’a hamba-Nya, siapa yang meminta-Nya niscaya Dia berikan, siapa yang memohon pertolongan-Nya, niscaya Dia akan memberikan pertolongan. Cukuplah Allah sebagai pelindung dan penolong kita.
Semoga Allah memberi hidayah kepada kita, sehingga tidak mengajrkan kepada putra-putri kita sesuatu yang mengandung kesyirikan, dan memberi kebaikan pada kita semua. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar