Kamis, 14 Februari 2019

Istri SayaDiavonis Gila oleh Dokter, padahal Terkena Gangguan Jin


Ini kisah nyata, tentang kepriha­tinan seorang suami yang istrinya dinyatakan gila, padahal karena gangguan syetan. Sisi lain dari kisah suka-dukanya mengabdi di jalur pendidikan di Timor-Timur.
Saya A. Helmi, asal Yogyakarta. Pada tahun
        1990 saya ditugas­kan ke Timor Timur
        sebagai guru PNS. Di sanalah saya menikah dengan istri saya yang berasal dari Ujung Pandang lulusan IAIN Alauddin Ujungpandang.
Awal kisah menyedihkan terjadi  ketika kami mempunyai usaha sampingan dengan bergabung dalam bisnis multi level marketing AMWAY. Saya bekerja sama dengan up-line seorang Ibu sebut saja ibu Ax yang kebetulan beragama Nasrani. Hubungan saya dengan pak Ax atau suaminya, sebenarnya cukup baik, karena dia adalah teman dekat saya yang sama-sama mengajar di SMU 2 Baucau Timor Timur. Bahkan setiap hari saya selalu shalat Ashar di rumahnya. Adik dan istrinya juga siswa saya. Ketika anaknya sakit panas sampai step (kejang-kejang), saya juga yang menolongnya sampai kondisinya membaik. Karena kebetulan saya dulu penah belajar PPPK sewaktu masih di  pramuka Gudep 15-16 Kotagede Yogyakarta pada tahun 80-an.
Sebagai up-line seharusnya ibu Ax selalu menepati pembayaran fee kepada saya setiap bulannya. Karena saya juga akan membayar kepada down-line saya. Tetapi ia tidak pernah menepati janji itu. Sehingga saya harus nombok setiap bulan untuk menggaji down-line saya. Akhirnya piutang saya pada dirinya semakin besar sampai ratusan ribu rupiah. Nilai uang itu terasa besar, karena memang saat itu, pada tahun 1997 belum terjadi krisis moneter.
Saya berusaha menagih dengan cara baik-baik setiap hari. Tetapi ia selalu berjanji besok-besok terus. Pernah suatu hari, saya bertemu bu Ax di bis kota. Saat itu saya tagih lagi. Namun tetap menolak. Kali ini ia beralasan mau langsung pu­lang. Saya katakan, “Saya nggak mau peduli, kamu kan sudah lama menunda, jangan begitu dong!” Setelah saya desak terus, akhirnya dibayar lunas.

Berobat dari dokter sampai ‘orang pinter’
Beberapa hari berikut, menyusul peristiwa itu, istri saya tiba-tiba merasa pusing yang sangat berat setiap hari. Maka saya mengadu ke teman saya yang dari NTB. Seorang bapak-bapak. Dia bilang bahwa daerah pak Ax itu memang terkenal sihirnya yang hebat. Bahkan istri teman saya itu juga mengalami gangguan yang sama dengan istri saya, sebentar-sebentar juga sering kambuh. Tapi entah bagaimana, teman saya itu bisa menanganinya.
Karenanya, saya minta bantuan kepada teman tersebut untuk mengobati istri saya. Entah dengan ilmu apa yang dia pakai, tetapi nampaknya seperti menggunakan pernafasan tenaga dalam. Ketika saya tanyakan kepadanya, di menjawab bahwa dia sendiri juga tidak tahu, karena sejak kecil tangan dia terasa ada suatu kekuatan, dan bisa untuk mengobati, termasuk anaknya juga begitu. Bahkan katanya ketika ibunya pernah sakit dan dia yang masih kecil menamparnya begitu saja, akhirnya sembuh.

Sabtu, 05 Januari 2019

Dengan Ilmu Metafisis, Saya Bisa Menyetir Sambil Tidur. ( RUQYAH JAKARTA PUSAT )



Nama saya Drs.Basuki Abdur Rahman, SU. Saya lahir di Sragen, Solo Jawa Tengah, pada 21 Juni 1964. Pendidikan saya, SD dan SMP di Xaferius Katolik. Sementara SMA-nya saya masuk di SMAN I  Sragen. Selepas SMA saya melanjutkan kuliah di Universitas Gajah Mada Yogyakarta Fakultas MIPA  hingga tamat tahun 1989. Di tempat itu pula saya melanjutkan S2 Matematika, hingga tamat pada tahun 1996.

         Saya pernah terdaftar sebagai Dosen Mate­matika di 14 pergur­uan tinggi di Yogyakarta. Hing­ga akhirnya sekarang saya menjadi Dekan Fakultas MIPA Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Selama masa kuliah, saya menjadi salah satu aktifis Jamaah Shalahuddin UGM Yogya­karta.
Saya dilahirkan dalam lingkungan yang sangat jauh dari agama Islam. Bahkan keluarga saya, termasuk kedua orang tua saya tidak ada yang menjalankan shalat. Kehidupan mereka sarat dengan dunia klenik dan kemusyrikan, karena seti­ap ada masalah pasti larinya ke dukun, kemu­dian mempercayai nasehat dukun itu untuk ber­se­saji, mengadakan selamatan, kenduri dan sebagainya.
Saya sendiri ketika mau mengikuti ujian seko­lah, diajak oleh bapak saya pergi ke seorang dukun, sorang tua yang biasa disebut Mbah Fulan, di Sambirejo Sragen. Saya juga tidak tahu mau diapa­kan di sana, si Mbah itu itu bilang, “Kesini nak, saya bukakan pintu kecerdasanmu.”
Dari sejak kecil, saya terbiasa makan maka­nan yang haram, seperti makan daging babi, da­ging anjing, daging kucing dan sebagainya. Pernah ada seekor kucing yang suka makan anak ayam milik keluarga saya, maka setelah ketahuan oleh kakak-kakak saya, kucing itu segera diuber dan setelah ditangkap langsung disembe­lih dan dimakan rame-rame.
Saya mengenal shalat setelah saya kelas dua SMP. Padahal saya sekolah di SMP Xaferius Katolik. Saya tiba-tiba mendapatkan hidayah dari Allah, dengan ada keinginan untuk belajar shalat dari teman main saya Maryono yang masih duduk di kelas lima SD. Saya pun kemudian diajak belajar mengaji di langgar (surau) di kampung sebelah. Pada awalnya, saya minta dia untuk melakukan shalat di depan saya dan saya terus mengikutinya. Memang sejak saya melakukan shalat, banyak juga rintangan dari lingkungan keluarga yang tidak mengenal shalat, tetapi saya tetap melaku­kannya.
Meskipun saya sudah shalat, tetapi saya masih terbiasa makan daging anjing karena tidak tahu hukumnya, baru setelah saya ditegur oleh teman saya, kemudian saya tinggalkan.
Ketika saya mulai menginjak dewasa dan  saya sudah duduk di SMA, saya agak sedikit tertarik dengan ilmu tenaga dalam dan ilmu kebal atau tahan pukulan. Saya diajak oleh teman saya untuk ‘diisi ilmu’ tenaga dalam  dari sebuah aliran. Tidak usah saya sebutkan aliran apa. Waktu itu saya disuruh memakai sabuk saya yang sudah ‘diisi’ oleh guru saya. Kemudian ada teman yang disur­uh memukul saya dengan penuh emosi. Aneh­nya, saya merasa tidak ada pukulan yang mengenai tubuh saya dan teman saya itu pun terpental ke belakang. Kemudian giliran saya yang disuruh memukul dia.
Tetapi waktu itu juga saya ragu dengan ilmu tersebut. Maka dengan bismillah dan membaca do‘a, saya melayangkan pukulan saya ke tubuhnya. Dia pun langsung sempoyongan. Peristiwa itu menguat­kan saya untuk punya keyakinan bahwa ilmu semacam ini jelas tidak benar. Setelah itu saya pulang ke rumah dan saya gantungkan celana dan sabuk (ikat pinggang) di gantungan, tetapi malam itu malah diambil pencuri. Dan setelah itu saya tidak lagi belajar ilmu tenaga dalam.

Rabu, 02 Januari 2019

Seorang Dukun Kesohor Memaksaku Mewarisi ‘Ilmu’ Tingkat Tingginya


Nama saya Novi Amanti. Setelah keluar dari SMA 3 Jakarta, pada tahun 1981, saya melanjutkan kuliah jurusan antropologi Universitas Indonesia.  Sebagaimana mahasiswa antropologi, saya sangat getol mempelajari dan meneliti budaya dan ekologi masyara­kat. Hingga menjelang akhir perkuliahan (April 1986), saya harus mengadakan penelitan skripsi di Kampung Laut, Segara Anakan, Nusa Kambangan, Jawa Tengah.
         Kondisi masyarakat Segara Anakan pada umumnya sangat baik, apalagi dengan pendatang. Ia sering menyebut saya orang darat. Tapi ada satu keunikan dari kebiasaan hidup sehari-hari masyara­katnya. Mereka sangat mengandalkan kondisi alam dan ramalan para pinisepuh (orang tua yang dianggap pintar). Bahkan, sistem pengobatan yang digunakan masih tradisional berupa ramuan. Apala­gi kalau muncul berbagai penyakit aneh yang sering menimpa war­ganya. Inilah yang akhirnya menjadikan pilihan obyek penelitian saya selanjutnya. Dimana ada gabungan antara ekologi, budaya dan kesehatan. Apalagi saya konsen pada anthropologi kesehatan.
Nah, pada waktu saya sedang memilih responden dan wawancara beberapa penduduk. Kebetulan sekali bertemu dengan keluarga yang mempunyai penyakit aneh. Orang tua si sakit mulanya membawa berobat dari mulai dokter Cilacap hingga ke Rumah Sakit Pertami­na. Namun anehnya, penyakit sang anak ini nggak sembuh-sembuh. Bahkan dokter pun tak bisa menentukan jenis penyakit yang dideri­tanya. Tapi begitu dibawa ke pinisepuh Samin (bukan nama sebe­narnya), sang anak tiba-tiba langsung sembuh begitu saja. Melihat hal semacam itu, saya jadi penasaran, obat apa sebenarnya yang dikasih pinisepuh itu.
 Maka, tiap hari saya datang ke rumah si sakit dan mencatat satu persatu berbagai obat dan ramuan yang telah diberikan. Saya catat secara detil, jenis racikan, ramuan yang digunakan dan takaran minumannya. Anehnya, ramuan-ramuan itu harus diminum pada tempat dan waktu tertentu. Bahkan sebelum meminum pun harus membaca berbagai bacaan mantra. Belum lagi ada berbagai syarat-syarat sebelum proses penyembuhan harus dipenuhi.
Melihat keganjilan itu, saya semakin penasaran. Maka sebagai seorang peneliti yang baik, tentu saya harus menyelidiki kapada bapak pinisepuh itu sebagai sumber utama. Saya pun berangkat menuju kasepuhan. 
Begitu penduduk mengetahui niat saya itu, pada mulanya mereka menyarankan untuk mengurungkannya. Karena di samping sangat sulit untuk menemui pinisepuh itu. Banyak penduduk yang telah lama ngenger di kasepuhan saja, jarang bertemu. Pinisepuh Samin ini hanya mau keluar jika ada pasien yang benar-benar membutuhkan. Memang pinisepuh Samin merupakan dukun yang punya tingkatan ter­tinggi dari pinisepuh-pinisepuh yang tersebar di Segara Anakan itu. Apalagi kalau ingin mencoba meminta penjelasan mantra dan berbagai pernik penyembuhan. Dapat dipastikan sulit. Bahkan pinisepuh Samin selalu menolak, setiap ada yang meminta dirinya diangkat sebagai murid.

Selasa, 18 Desember 2018

Rasulullah SAW Meruqyah dengan air garam

Imam Ahmad meruqyah dirinya dengan air


Air adalah merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi makhluk hidup, seperti manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Ada orang yang bisa bertahan puluhan hari dengan hanya menkonsumsi air, tapi dia tak akan kuat bila tidak minum air puluhan hari, kalaupun ada yang kuat paling bisa bertahan dalam hitungan jam atau beberapa hari saja. Maha benar Allah dalam firman-Nya, “Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup (QS. al-Anbiya’: 29).
Air juga sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan tubuh serta menyegarkan kulit dan memulihkan stamina yang loyo. Maka dari itu kalangan medis menganjurkan kita semua untuk menunjang kesehatan tubuh dengan meminum air dalam sehari sekitar 6 – 8 gelas. Dan dalam dunia ruqyah ternyata air juga digunakan sebagai media pengobatan. Yaitu dengan mengambil segelas atau semangkok air, lalu dekatkan ke bibir seraya membaca bacaan ruqyah. Atau membaca ayat dan doa ruqyah lalu ditiupkan ke air. Kemudian si pasien atau orang yang diruqyah minum air tersebut atau dipakai mandi.
Pelopor madzhab Hanbali pernah melakukan ruqyah dengan air secara mandiri. Sebagaimana yang diceritakan anaknya yang bernama Abdullah. Dia pernah melihat ayahnya Ahmad bin Hanbal membaca ayat dan doa ruqyah ke air, lalu meminumnya dan mengguyurkan ke badannya. (Al-Adab Asy-Sar’iyyah: 2/ 441).




Rasulullah meruqyah dengan air garam


Ali bin Abi Thalib Ra: Ketika Rasulullah saw shalat, ada seekor kalajengking yang menyengatnya. Sehabis shalat beliau berkata, “Laknat Allah untuk kalajengking, orang yang sedang shalatpun disengatnya, lalu beliau mengambil air yang dicampur dengan garam. Kemudian diusapkan ke bagian yang sakit sambil membaca surat al-Kafirun, surat al-Falaq dan surat an-Nas.” (HR. Ath-Thabrani dan dishahihkan oleh Syekh Al-Albani hadits no. 548).

Minggu, 25 November 2018

DITANAM RAJAH, TIBA-TIBA RUMAHKU PENUH ULAT


Pada mulanya aktifitas kehidupan saya normal saja. Walaupun harus ditinggal suami yang hanya pulang seminggu sekali. Saya bersama penduduk sudah biasa mengadakan pengajian dan ngaji bersama.  Alhamdulillah, mungkin karena profesi sebagai guru, saya sangat mudah diterima penduduk sekitar.
Hingga datang lah peristiwa itu.  Ketika bulan Desember 1999, orang-orang Nasrani yang hanya berjumlah 7 KK bersikeras mendiri­kan gereja diatas tanah milik Bapak Suyitno (75 tahun).  Lokasi itu hanya berjarak 300 meter dari rumah yang saya tempati. 
Kontan masyarakat Plumbon, Suruh yang sebagian besar adalah muslim resah.  Namun mereka tidak berani berbuat apa-apa dengan aparat pemerintah. Masyarakat menumpahkan kegundahan hatinya pada saya lewat pengajian dan perkumpulan yang biasa saya lakukan. Melihat kondisi itu, saya bersama suami mengambil inisiatif mengumpulkan seluruh masyarakat dan mengkoordinasi demontrasi pada aparat setempat.  Dan alhamdulllah, akhirnya gereja itu tidak jadi dibangun.
Namun, setelah peristiwa itu berlalu. Tiba-tiba, setiap kali membaca Al Qur’an, saya terasa ngantuk yang amat sangat.  Kondisi itu disertai dengan pegal-pegal di pundak kanan, dan bengkak di bagian leher.  Dan, tiba-tiba saya mempunyai kebiasaan aneh. Saya sangat gembira kalau memandang salib.  Sehingga setiap berangkat dan pulang mengajar, saya selalu menyempatkan diri melewati bangunan gereja di sepanjang perjalanan pulang.  Dan ketika melihat jurang, hati ini terasa enak dan sejuk, dan seperti ada yang mendorong saya untuk terjun ke dalamnya.  Namun alhamdulil­lah, hal itu masih bisa saya lawan dengan mengucapkan kalimah toyyibah: Laa ilaaha illallah.  Peristiwa seperti ini saya alami hingga 1 tahun.
 Hingga tahun 2000, muncul sebuah benjolan aneh sebesar bola pimpong di leher sebelah kanan.  Benjolan itu terasa sakit.  Dan tangan saya seringkali bergerak sendiri tanpa kontrol.  Bahkan seringkali tangan saya tiba-tiba mau memukul teman-teman guru yang sholeh.  Kalau saya membaca kalimat tauhid, baru tangan bisa saya kontrol kembali.  
Namun bersamaan dengan itu, muncul sebuah peristiwa lain, ada seorang gadis yang dibawa lari pemuda desa. Orang tua gadis itu meminta suami saya untuk ikut bersama mencarinya.  Dan akhirnya diketahui bahwa gadis tersebut dibawa sopir angkot yang biasa ditumpangin­ya.  Alhasil, mereka ditangkap dan disidang ramai-ramai oleh ketua RT dan RW.  Dan mereka mengakui kalau sering malakukan perzinaan.  Setelah kita minta taubat dan meninggalkan dosa, mereka pun dilepaskan.  Tapi anehnya, orang tua pemuda dan gadis itu justru marah kepada suami saya. Karena suami saya dianggap telah mencemarkan nama baik keluarganya.
Tak lama setelah peristiwa itu berselang.  Santri saya di TPA Masjid Al Hakim, melihat orang tua gadis yang suka kabur itu memasukkan bungkusan dalam lubang galian tanah di bawah pohon kol Banda yang terletak di halaman rumah saya.  Dan karena dikiranya menanam uang, begitu bapak gadis itu pergi, santri saya itu buru-buru mengambil dan membukanya.  Ternyata isinya rajah dengan tulisan Arab terbalik (diacak).  Maka segera rajah itu kami bakar.
Keesokan harinya, tiba-tiba seluruh tembok rumah kami dipenuhi ulat jaran (ulat besar berbulu).  Ulat itu memenuhi seluruh tembok sehingga tak ada celah sedikit pun.  Padahal saat itu belum musim ulat.  Dengan terus beristighfar kami berdua kemudian membersihkan dan membakar ulat-ulat itu