Minggu, 20 Mei 2018

Terjerembab menjadi dukun


Andri nama samaran (30 tahun):
(menipu banyak orang dengan jimat dan amalan)
Berbagai Penyakit Aneh Datang Menghantuinya

Hidup sukses adalah impian semua orang. Bekerja dengat giat di perantauan adalah salah satu kunci hidup sukses. Tapi siapa kira, bisa terjerembab menjadi seorang dukun yang banyak merugikan orang lain. Andri namanya. Sekitar satu tahun lebih. Andri berprofesi sebagai dukun yang menjual jimat-jimat palsu. Hatinya bergejolak, menekuni perbuatan terkutuk itu. Berbagi penyakit aneh datang menerpanya. Sampai akhirnya ia kembali ke jalan yang benar setelah penyakitnya dapat disembuhkan dengan terapi ruqyah. Didampingi seorang teman kantornya, Andri menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di Gunungpati, Semarang.

            Selepas lulus dari SMA (1996), seseorang datang menawarkan pekerjaan kepada saya.  Karena sedang menganggur, saya pun langsung tertarik. Sebagai pemuda desa, mendapatkan pekerjaan adalah sebuah kebanggaan. Apalagi orang itu menjelaskan, bahwa pekerjaan yang ditawarkannya bergerak di bidang pengobatan. Ia juga memperlihatkan beberapa buah jimat seperti: akik, keris, rajah dan lainnya. Ia bilang semua jimat tersebut untuk sarana pengobatan.  Terpikir oleh saya, jika memikili jimat-jimat tersebut, mungkin bisa digunakan untuk menolong warga di sekitar sini. Tanpa pikir panjang, saya menerima tawaran itu.. Kami pun segera berangkat….! Dengan segudang harapan, saya tinggalkan kampung halaman serta sanak saudara tercinta. Orangtua yang selama ini memberikan kasih sayang, dengan berat hati juga harus saya tinggalkan, demi mencari sesuap nasi. Sambil memandangi sawah yang terhampar hijau, terbayang, bagaimana keberhasilan beberapa ‘orang pintar’ di desa. Kehidupan mereka boleh dikatakan berkecukupan. Hal itulah yang juga ikut memotivasi saya, sehingga mau ikut bekerja dengannya. Dengan diiringi suara gemiricik sungai, kami berangkat ke kota Tegal. 

Sabtu, 19 Mei 2018

Adab Menjaga Lisan

"Namaam (Orang yang suka menyebarluaskan keburukan orang lain atas dasar tidak suka) tidak akan masuk surga." (HR. Bukhari dan Muslim).

Namimah adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. la didasari sifat dengki dan iri atas keberhasilan orang lain. Sehingga kesana kemari, orang yang terkena racun namimah akan mengobral berita seputar keburukan orang yang tidak disenanginya.
Jelas namimah merupakan penyakit sosial yang sangat berbahaya. Lebih berbahaya daripada ghibah. Hal ini tidak terlepas dari keterlibatan emosi yang melatarbelakanginya. Bahasa al-Qur'an menyebut mereka dengan orang-orang yang hina. Menjadi hina karena perbuatan mereka yang merugikan diri dan masyarakatnya. Perhatikanlah firman Allah dalam surat al-Qalam ayat 10-11, yang artinya, "Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela, yang kesana kemari menghambur fitnah." (QS. Al-Qalam: 10-11)
Orang seperti mereka, adalah orang-orang yang berhati kotor. Jiwanya penuh dengan kedengkian. Kesana kemari is berusaha menjelekkan orang yang tidak disukainya. Dengan alasan yang beragam, tipikal orang-orang yang diperingatkan Allah dalam al-Qur'an ini banyak ditemukan dalam keseharian kita.
Seperti yang diceritakan Ari (nama samaran) seorang pasien Majalah Ghoib asal Bandung, Jawa Barat. la dan keluarganya sempat dikucilkan oleh tetangga kiri kanannya. Hanya karena ulah seorang tetangganya yang berusaha sedemikian rupa menyebarluaskan keburukan-keburukannya. Meski apa yang disampaikannya itu belum tentu benar.
Ari menjadi korban namimah. Kini setelah mengikuti terapi ruqyah di kantor Majalah Ghoib tetangga kiri kanannya sudah mulai berubah. Bahkan menurut cerita salah seorang anak perempuannya yang masih duduk di kelas empat SD, sudah mulai ada tetangga yang tersenyum padanya. Padahal sebelumnya mereka selalu cemberut dan mengacuhkan keluarga Ari.

Begitulah namimah merusak kehidupan masyarakat. Orang yang tidak memiliki hubungan atau masalah apapun bisa menjadi apriori. Semuanya karena ulah orang­orang yang berhati kotor.
Sedemikian besar bahaya yang ditimbulkan oleh namimah, hingga mereka menuai balasan atas apa yang dilakukannya. Sejak dimasukkan ke dalam liang lahat. Jauh sebelum hari kiamat tiba. Dan siksa yang kekal telah menanti mereka.

Kamis, 26 April 2018

Saya Pernah Berobat Ruqyah ke Orang pinter




Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Ustadz, saya seorang gadis berumur 21 tahun. Saya pernah berobat ruqyah ke paranormal untuk mengobati penyakit medis dan non medis. Kata peruqyahnya, saya mengidap penyakit komplikasi, dan ada yang mengikuti, yaitu seorang kakek. Sebelum diruqyah saya berwudhu terlebih dahulu. Dan saat diruqyah, saya dibolehkan untuk tidak tutup aurat. Peruqyah laki-laki itu memegang telapak tangan, sehingga kulit saya bersentuhan dengan kulitnya. Saya disuruh berdzikir: ‘Ya Lathif’ terus menerus.
Sebelum ia membaca bacaan ruqyah, ia menyebut nama saya dan kedua orangtua, lalu ia membaca surat al-Fatihah. Lalu ia mengerahkan tenaga dalam untuk mengambil dan membuang energi negatif yang ada dalam tubuh saya. Setelahnya, saya disuruh minum air yang bercampur bunga mawar. Kemudian saya disuruh mandi air yang telah ia do’akan bercampur minyak bunga mawar dengan niat membersihkan badan. Malamnya, jam satu, saya disuruh shalat taubat, tahajjud dan hajat. Lalu baca Istighfar , Shalawat, Ya Alloh Ya Qodim, Ya Lathif, Ya Hayyu Ya Qoyyuum bi Rohmatika Astaghits, masing-masing dibaca 100 kali, serta ayat Kursi 13 kali.
Yang ingin saya tanyakan; bolehkah saya mengamalkan amalan tersebut? Kata peruqyah itu, tubuh saya sudah berlubang sehingga harus ditutup agar jin tidak mengganggu lagi, benarkah itu? Berdosakah saya, karena telah minta diruqyah ke paranormal? Apa yang harus saya lakukan? Terima kasih atas jawabannya.
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.
Atit, Batang Jawa Tengah.

Jumat, 23 Maret 2018

Terpedaya Dukun Bertampang Kyai


Ustadz, saya pernah sakit kepala terasa ditusuk-tusuk jarum, dan berobat ke dokter sering kali tapi belum sembuh. Saya pernah mengundang seorang kyai, saat pengobatan dia mengeluarkan kawat dari dada dan kaki, tiga butir gabah dari dada. Dia memberi saya jimat, bambu kuning untuk dikubur di pekarangan rumah.
Setelah saya tahu kalau pakai jimat itu tidak boleh. Saya ragu, apakah dia dukun atau kyai? Lalu saya menggali jimat itu dan membuangnya. Tapi yang di belakang rumah tidak ketemu saat digali kembali. Kemana bambu tersebut? Sampai sekarang saya dibayang-bayangi dosa tersebut, terapi apa yang harus saya lakukan? Atas jawabannya, terima kasih.
Hamba Allah, Jatiwangi Majalengka Jawa Barat

Bismillah wal Hamdulillah, cerita Anda cukup detil, tapi maaf kami tidak bisa menampilkan isi surat Anda semuanya, karena terbatasnya ruang. Do’a dari redaksi dan pembaca Majalah Ghoib lainnya, semoga Allah segera menyembuhkan penyakit yang Anda derita. Aamiin.
Sudah banyak pembaca Majalah Ghoib yang mengadukan pengalaman yang serupa dan hampir sama dengan Anda, yaitu terpedaya oleh seorang dukun yang bertampang kyai. Bahkan di antara mereka ada yang tertipu secara materi dan immateri, terampas aqidah dan kehormatannya. Sungguh memilukan.
Maka dari itu, sudah seharusnya kita hati-hati terhadap praktik perdukunan yang menggunakan lebel Islam, dan menjauhi seorang dukun yang berbaju kyai. Jangan terpesona dengan penampilan, tapi lihatlah bagaimana cara dia melakukan pengobatan atau terapi. Kalau cara yang digunakan adalah cara perdukunan, maka ia adalah dukun, meskipun pakaiannya pakaian ulama’ atau kyai.
Tapi di sisi lain, kami juga turut bergembira karena Anda segera menyadari bahwa sosok yang dianggap kyai itu, ternyata hanyalah seorang dukun yang menyesatkan. Solusi yang Anda terima darinya selama ini adalah solusi syetan, dengan menggunakan sesajen kembang dan jimat-jimat produk syetan.

Senin, 22 Januari 2018

Putus Mata Rantai Ilmu Titisan


Bu Ramting tidaklah sendirian. Ada banyak kisah serupa yang kita temukan dari pasien ruqyah yang diterapi di Ghoib Ruqyah Syar'iyah. Para pasien itu tidak pernah mempelajari ilmu kesaktian dengan berbagai fariannya. Mereka juga tidak melakukan tirakatan, atau lelakon apapun.
Tapi mereka adalah korban. Ya, korban atas apa yang dilakukan oleh leluhur mereka yang pernah memperdalam ilmu kesaktian. Mereka dipaksa untuk menjadi penitisan jin yang mereka katakan sebagai khadam, tanpa dimintai persetujuan.

Mau atau tidak, mereka adalah pewaris ilmu titisan. Sesuai dengan perjanjian yang telah dibuat oleh leluhur mereka. Itu adalah perjanjian dengan syetan yang ujung-ujungnya menyeret ke jurang kehancuran.
Menilik pada keseluruhan kisah, sesungguhnya kemampuan itu bukanlah karamah atau maunah, karena setelah menyembuhkan pasien patah tulang, justru salah satu keluarganya ada yang menjadi korban berikutnya. Mereka mengalami kecelakaan.
Keahlian itu adalah titisan dari leluhur Bu Ramting, yang diakuinya ahli urut. Masalahnya mengapa kemudian keluarganya menjadi tumbal? Bisa jadi karena ada persyaratan-persyaratan tertentu yang belum dilunasi. Sehingga syetan yang telah membantu Bu Ramting meminta ganti yang lain.

Menurut orang pintar lainnya, keahlian Bu Ramting pada akhirnya akan menitis pada anak-anaknya. Buktinya, sejak kecil, kedua anaknya bisa melihat makhluk ghaib yang tidak bisa dilihat orang lain. Dengan kata lain, pada diri kedua anaknya sudah ada jin yang menyertai mereka.

Keberadaan jin dalam diri manusia tidaklah menguntungkan manusia itu sendiri. Karena sejak semula mereka telah mengikrarkan diri sebagai musuh yang akan mengajak mereka ke dalam neraka. Bukalah lembaran al-Qur'an dalam surat al-Hijr ayat 34. Syetan berikrar, "Dan aku akan menyesatkan mereka semua."