Sabtu, 13 Desember 2014

ANAKKU KESURUPAN REOG PONOROGO

Sebenarnya kejadian ini terjadi sebelum saya mengenal Majalah Ghoib yaitu sekitar bulan agustus 2005 yang lalu. Seperti halnya daerah-daerah lain, pada bulan tersebut di daerah saya biasanya selalu diadakan acara-acara pagelaran kesenian daerah dalam rangka peringatan hari kemerdekaan RI. Tempat tinggal saya masih termasuk kabupaten Madiun  namun karena letaknya lebih dekat ke Ponorogo, maka kesenian yang sering diadakan adalah pagelaran kesenian reog Ponorogo. 


    Anak saya yang bungsu, umurnya sekitar 5 tahun, sangat senang sekali melihat pertunjukan reog ponorogo. Dimanapun ada pertunjukan, dia selalu minta diantar untuk melihatnya. Rumah kami kebetulan dekat sekali dengan lapangan desa, sehingga setiap ada kegiatan di sana, kami selalu menontonnya bersama-sama. Bagian yang paling disenangi anak saya adalah barongan atau hewan berkepala macan dengan mahkota burung merak di atasnya. Pagi itu sekitar pukul 14.00 wib, lapangan desa sudah dipenuhi orang-orang yang ingin menyaksikan acara peringatan HUT Kemerdekaan RI yang ke-50. Panggung hiburan dengan orkes melayunya sudah terdengar melantunkan lagu-lagu yang sedang ngetop. Ratusan orang berjejal di depan panggung sambil bergoyang. Panas udara yang memanggang kulit seolah tidak mereka rasakan. Acara kesenian reog ponorogo biasanya dimainkan di akhir acara. Sambil menunggu waktu pementasan di mulai, pemain-pemain reog biasanya berkumpul di belakang panggung. Sedangkan peralatan kesenian reognya dikumpulkan di dekat mereka.
        Saya sedang asyik menyaksikan musik dangdut ketika tiba-tiba tersadar kalau anak saya tidak berada di samping saya lagi. Setelah mencari kesana kemari akhirnya saya mendapatinya tengah berdiri di dekat barongan yang sedang disandarkan di bawah pohon di belakang panggung. Saya melihat dia mempermainkan rambut dan kumis macan. Sesekali ditarik-tariknya dengan gemas. Sepintas saya melihat ada kembang telon dan minyak wangi yang menyengat baunya diikat di sela-sela rambut gimbal sang macan. Saya segera mengajak pergi anak saya kembali ke depan panggung. Meski agak rewel tapi akhirnya mau juga saya ajak ke depan panggung pertunjukan. Anak saya begitu senang hingga acara berakhir menjelang maghrib.
   Esok harinya ada yang aneh, anak saya berkelahi dengan anak tetangga sebelah. Yang membuat saya heran, dia berteriak-teriak dengan kata-kata kotor ( bahasa jawa : misuh ) sambil sesekali meludah, padahal belum pernah saya melihat dia bertingkah seperti itu sebelumnya. Kemudian yang makin mengherankan saya, saat marah matanya menjadi kemerahan dengan pandangan penuh kebencian ( bahasa jawa : nyengit ) dan tubuh membungkuk dengan kedua tangan mencengkeram seperti macan. Ketika saya berusaha mendekat untuk melerai, tiba-tiba tangan kiri dan punggung saya digigit dengan keras. Astaghfirullah hal adzim. Selama beberapa hari peristiwa itu selalu berulang terutama kalau anak saya jengkel atau marah kepada siapapun yang ada di rumah. Saat itu saya belum mengerti kenapa hal itu terjadi. Kemudian saya baru ingat, mungkinkah kejadian itu terjadi karena “kejahilan” anak saya mempermainkan barongan reog pada pagelaran kesenian reog ponorogo beberapa saat yang lalu ? Tetangga saya bilang anak saya terkena “sawan” reog ( istilah jawa untuk kesurupan reog ). Pengobatannya adalah dengan menggunakan media dari barongan yang di jahili anak saya.
  Saya berusaha mencari informasi dimana tempat barongan reog ponorogo yang tampil waktu itu disimpan. Alhamdulillah ternyata barongan tersebut milik desa saya sendiri sehingga saya tidak kesulitan melacaknya. Saya menemui sang pawang barongan, ternyata barongan reog tersebut memang telah “diisi” ( di sotren ) melalui ritual-ritual tertentu sebelum dipentaskan. Tujuannya adalah untuk memberi kekuatan / kewibawaan  pada barongan tersebut. Setelah saya jelaskan permasalahannya,  saya diberi obat untuk dioleskan ke tubuh anak saya, yang diambil dari bagian barongan. Setelah obat tersebut saya berikan sesuai dengan pesanan sang pawang, anak saya sembuh sembuh. Namun itu hanya berlangsung selama satu hari saja. Hari berikutnya kembali kumat lagi seperti sebelum diberi obat.
         Kemudian saya berusaha menemui Bapak Kyai di daerah saya, untuk lebih meyakinkan, anak saya saya ajak juga. di rumah bapak kiai yang saya temui, kelakuan seperti macan itu terjadi lagi... posisi seperti macan dengan tangan mencengkeram karpet,  bapak kiai tersebut sudah naklum. kenudian  saya diberi air putih yang telah di beri do’a. Alhamdulillah setelah diminum beberapa kali, anak saya sudah agak pulih. Namun dalam keadaan tertentu, terutama kalau sedang marah, atau jengkel, kadang-kadang kelakuan seperti macan itu sering terjadi lagi.
            
        Suatu hari saya melihat majalah ghoib di toko buku di daerah saya. Kisah di dalamnya membuat saya sadar kalau cara yang selama ini saya lakukan adalah kurang sesuai dengan syariah Islam. Cara yang seharusnya saya lakukan adalah dengan mengikuti ruqyah syar'iyyah untuk membersihkan anak saya dari pengaruh gaib tersebut. Namun karena belum tahu tempat ruqyah di daerah saya, untuk sementara saya mencoba meruqyah ( ruqyah syarr'iyah ) anak saya dengan menggunakan media kaset yang saya beli di toko tempat saya memperoleh majalah ghoib. Saya memutar kaset ruqyah tersebut beberapa kali dalam satu malam, setiap anak saya tidur. dengan speker saya dekatkan ke arah telinganya. Alhamdulillah setelah beberapa malam saya lakukan, sampai sekarang kelakuan aneh itu sudah tidak terjadi lagi. Anak saya sudah kembali pulih seperti sediakala.
Akhirnya Terima kasih kepada majalah ghoib, karena dengan kehadiranmu, saya menjadi lebih paham tentang hal-hal ghaib ( terutama tentang kesurupan ) dan cara menyikapinya. Semoga kisah ini dapat digunakan sebagai pelajaran bagi pembaca yang lainnya. Amin. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar