Selasa, 24 September 2013

Terjerat ilmu pelet, karena sakit hati


     Sewaktu SMA, aku terpikat dengan seorang wanita. Meilani, namanya. Ia biasa dipanggil Lani. Kulitnya putih, dengan hidung yang mancung. Kecantikannya memang menebar pesona. Kemana kakinya melangkah, ia selalu menjadi sorotan. Tak ubahnya magnet, Meilani menjadi primadona di SMA. Bukan hanya kecantikannya yang menonjol, tapi juga kecerdasannya.
Kuakui, aku tidaklah tampan-tampan amat. Perawakanku juga tidak terlalu atletis. Seperti kebanyakan orang Indonesia, warna kulitku sawo matang. Artinya, bila disandingkan dengan Meilani, diriku bukanlah seperti gambaran Arjuna dalam kisah pewayangan.
Tapi urusan hati tidaklah selalu matematis. Seorang wanita yang cantik bak bidadari, tidak semuanya bersanding dengan pemuda yang tampan. Banyak juga yang bersuamikan lelaki yang biasa saja secara fisik. Tapi mereka menjadi pasangan yang harmonis. Realita itulah yang memupuk keberanianku untuk menyatakan cinta.
Pucuk dicinta ulam tiba. Pendekatan yang kulakukan menuai hasilnya. Hubunganku dengan Meilani semakin akrab, bila ada kesempatan, aku mengajaknya jalan-jalan sekadar menikmati indahnya suasana sore.

Meilani mulai menceritakan pacarnya yang mengajak hubungan intim. Tapi dia tidak mau. Pacarnya hanya ingin memanfaatkan kekayaan dan kecantikannya. Ia mengatakan, ingin mencari seorang pemuda yang tulus mencintainya.
Kukatakan, bila aku tulus mencintainya. “Kalau kamu memang tulus mencintaiku, aku akan menerimamu apa adanya,” kataku. Meilani menatap mataku dengan lembut. Ia ingin menelusuri ketulusan cintaku. Sejak itu hubungan kami makin akrab. Hingga suatu ketika ia mencampakkan diriku. Ia kembali berpindah hati kepada pemuda yang lebih tampan dariku.
Aku kecewa. Baru seumur jagung menyatakan cinta, tapi kini sudah berpaling ke lelaki lain. Bukannya aku melarangnya berteman dengan orang lain. Tapi yang kulihat, hubungannya dengan pemuda yang belum kukenal namanya itu bukan sekadar berteman. Informasi dari teman-temanku juga mengatakan hal yang sama. Ya, mereka telah berjalan lebih jauh. Mereka telah menjalin kasih.
Menjelang Maghrib, aku mendatangi rumahnya yang sepi. “Kamu itu gimana sih. Katanya kemarin, kamu suka sama saya. Sekarang kamu dapat dia, kamu suka sama dia. Sebenarnya mana sih yang kamu mau?”
Jawaban Meilani sungguh di luar dugaan. Kata-katanya sangat menyakitkan. “Kamu itu jelek. Pendek. Sebenarnya kamu itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dia. Kamu itu sebagai pelampiasan kesepian saja,” katanya dengan nada sombong.
“Apa?” saya tidak percaya bila Meilani mengucapkan kalimat itu.
“Ya, saya sungguh benci kamu,” katanya dengan mata terbelalak. Ia benar-benar menampakkan kebenciannya.
“Kamu itu maksudnya apa. Saya sudah berkorban sama kamu. Waktu saya, uang saya. Karena belain kamu, saya sampai bertengkar dengan orangtua.” Aku ingin menunjukkan bahwa demi cintaku, aku sampai berani melawan orang tua. Tapi semua itu tetap tidak ada nilainya di mata Meilani.
“Saya tidak mau tahu. Pokoknya sekarang kita putus.”
Sejak itu aku sakit hati. Wanita yang selama ini kucintai itu ternyata berhati srigala. Ia mencampakkan diriku begitu saja. Baru kusadari bila selama ini, dia hanya berpura-pura mencintaiku. Hanya karena ingin melampiaskan kekesalannya, atau memanfaatkan uangku.
Hatiku hancur. Aku pulang dengan membawa kekesalan yang mendalam. Sampai di rumah, aku dimarahi ayah karena tidak mau menjemput kakak. Aku lebih memilih menemui Meilani. Sementara motor satu-satunya kupakai. Alhasil, kakak naik kendaraan umum setelah tiga jam menungguku yang tidak kunjung datang menjemputnya.
Hatiku yang masih gundah, karena baru putus cinta, tidak mau menerima kemarahan ayah. Dengan tanpa sadar kupukul dan kutendang ayah. Terang saja ayah marah. Dengan golok di tangan, ayah mengejarku. Aku berlari dan terus berlari, menghindar dari kejaran ayah yang masih marah. Tetangga yang melihat adegan itu hanya terbengong-bengong. Mereka tidak tahu harus berbuat apa, karena itu urusan keluarga.
Cinta ditolak dukun bertindak.
Kekesalanku kepada Meilani sudah mencapai ubun-ubun, hingga usul seorang teman untuk menggunakan jasa dukun kuturuti begitu saja. Amir yang juga teman sekelasku memang terkenal sebagai play boy. Ia sering bergonta-ganti pacar. Rupanya, semua keberhasilannya dalam menggaet cewek tidak terlepas dari klenik yang dilakoninya.
Singkat kata, aku pun meminta saran dan nasehatnya, yang terbilang sukses memanfaatkan ilmu pelet. Ia menyodorkan selembar kertas bertuliskan arab. Katanya, itu isim Sulaiman.
“Coba kamu amalkan. Kamu tahu nggak namanya siapa? Umurnya berapa? Lahir tanggal berapa, bulan apa, … harinya apa?” Sederet pertanyaan itu kujawab dengan yakin, bahwa aku tahu jawabannya.
“Kalau kamu bisa mengambil rambutnya, ambil rambutnya. Sesudah itu kamu shalat dua rakaat. Kamu baca isim Sulaiman beberapa kali, lalu letakkan kertas bertuliskan nama Meilani di tengah al-Qur’an. Nanti, ketika al-Qur’an itu berputar, kertas itu juga akan berputar. Maka dia akan takluk sama kamu,” jelas Amir.
Malamnya, kupraktekkan apa yang diajarkan Amir, tapi tetap tidak berhasil. Esok malamnya, kuulang lagi, hasilnya tidak berbeda. Akhirnya aku diajak Amir ke neneknya. Dialah yang selama ini mengajari Amir ilmu pellet.
Amir sudah cerita perihal alasanku menemuinya. “Ambil air dalam baskom ke kamar!” kata nenek tanpa banyak bicara. Meski masih sedikit ragu-ragu, aku menuruti permintaannya. Kubawa air dalam baskom ke kamar dengan hati dag, dig, dug. Kemudian aku disuruh duduk bersila di dekat baskom.
“Kamu bayangkan wajah cewek itu! Katanya kemudian. “Kamu bayangkan bagian mana yang kamu senangi dari cewek itu. Hidungnya, matanya atau bibirnya,” nenek terus memberikan komando. Karena aku tulus mencintainya, aku membayangkan wajahnya.
Aku tidak lagi peduli apa yang dilakukan nenek di belakangku. Pikiranku terfokus untuk menghadirkan wajah Meilani ke dalam baskom. Wajah yang manis itu tergambar dengan jelas. Matanya, hidungnya, bibirnya, bulu matanya yang lentik… semuanya ada di dalam air.
Pasca ritual singkat itu, aku diberi air dalam botol aqua. “Taruh sebagian air ini di minuman cewek itu,” serunya kemudian.
Awalnya aku bingung, bagaimana cara memasukkan air tersebut ke minuman Meilani. Aku khawatir dia curiga. Aku masih terus mencari kesempatan yang tepat untuk memberikan air guna-guna. Kesempatan itu baru tiba setelah jam pelajaran olahraga. Nah, di sela-sela istirahat setelah olahraga, aku berpura-pura berbaik hati kepadanya. Aku pasang wajah yang seperti biasaya. Seolah-olah tidak ada masalah di antara kami. Kusodorkan segelas air aqua yang telah kusuntik dengan air guna-guna.
Tanpa curiga, Meilani meminumnya. Wajahnya sumringah. Nampak ia senang dengan pendekatanku. Kami pun ngobrol ke sana kemari diiringi canda tawa. Hasil dari guna-guna itu langsung ketahuan sore harinya. Meilani memintaku datang ke rumahnya. Di rumahnya yang sepi itu, Meilani menangis. Ia memintaku menerimanya kembali sebagai pacar. Padahal seminggu sebelumnya, ia menendangku dengan sombongnya.
Pucuk dicinta ulam tiba. Tanpa banyak pertimbangan, kuterima kata maafnya. Dan kami pun kembali menjalin asmara seperti dulu. Bedanya, bila dulu, aku yang tergila-gila kepadanya, sebaliknya, setelah minum air yang telah diguna-guna, Meilani yang tergila-gila kepadaku. Apapun permintaanku diturutinya tanpa banyak mengeluh. Kalau aku berniat tidak baik, tentu dengan mudah kurenggut kegadisannya.
Tapi aku tidak mau melakukannya. Aku mencintainya dengan tulus. Dan aku tidak mau menodai cintaku. Setahun lamanya, kami berpacaran. Setahun lamanya pula Meilani tidak pernah berpaling ke lelaki lain.
Semua itu terjadi karena secara rutin, aku selalu memperbarui peletku. Dua hari sekali aku menjalani ritual seperti biasa di rumah neneknya Amir. Sebuah perjalanan cinta yang mahal.
Diusiaku yang masih kelas tiga SMA itu, aku sering mengajak pacarku ke mall atau diskotik. Padahal, aku masih belum bekerja. Uang sekolah menjadi modal pacaran. Uang yang seharusnya kubayarkan ke sekolah, habis untuk pacaran. Berkali-kali ayah mendapat surat panggilan ke sekolah, tapi berkali-kali pula aku meminta tolong orang lain agar menggantikan peran ayah. Hingga akhir tahun, ayah baru tahu bahwa selama ini aku menunggak uang sekolah.
Hal itu terjadi ketika salah seorang guru menemui orang tuaku ketika aku tidak berada di rumah. Dari sana, ayah curiga bila uang sekolah itu kupergunakan untuk pacaran, atau pergi ke diskotik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar