Senin, 30 September 2013

Memimpin dengan Cinta dan Doa


Karena pemimpin punya wewenang. Karena pemimpin yang bisa mebahagiakan sekian banyak umat atau bahkan membuat mereka sengsara. Karena pemimpin adalah teladan, jika buruk maka buruklah muka umat ini. Dan jika baik, maka baiklah umat ini. Karenanya, Nabi SAW memberikan batasan yang mudah diingat tentang pemimpin yang baik dan buruk, “Sebaik-baik pemimpin adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendoakan kalian dan kalian mendoakan mereka. Dan seburuk-buruk pemimpin adalah mereka membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka melaknat kalian dan kalian melaknat mereka.” (HR. Muslim) 
Dua kata: Cinta dan Doa. Benci dan Laknat.
Hal ini harus menjadi program besar para pemimpin dalam menjalankan amanahnya. Memandang umat dengan cinta. Sehingga umat bisa merasa kebijakan yang dibuatnya berlandas cinta. Cinta artinya perhatian. Cinta artinya kasih sayang. Cinta artinya perngorbanan. Cinta artinya satu hati. Cinta artinya pembelaan.
Dengan cintalah umat akan berjalan bergandengan tangan erat dengan pemimpinnya. Dengan cintalah umat akan memberikan loyalitasnya yang tulus. Dengan cintalah permasalahan yang muncul dengan sederhana dan cepat bisa diselesaiakan.
Nabi SAW memulai kata cinta dari pemimpin. Baru, cinta bersambut dari hati umat. Karena umat telah memberikan banyak hal kepada pemimpin. Umat rela digiring kemana saja. Umat menyerahkan ketaatannya dan berjanji untuk tidak membangkang. Timbale balik itu bermula dari pemimpin. Apa yang ingin diciptakan di masyarakat, permulaannya harus dari pemimpin. Kejujuran, kesederhanaan, kepercayaan, loyalitas. Di sinilah teroancar makna besar keteladanan.

Cukuplah fitnah di akhir pemerintahan Utsman bin Affan menjadi pelajaran bagi para pemimpin. Tidak pernah ada yang meributkan kekayaan Utsman saat masih menjadi pebisnis sebelum menjabat. Tetapi saat tampuk kekhilafahan ada di pundaknya, dan harta Utsman telah banyak berkurang, umat mencurigai sebuah kawasan yang dibuat untuk mengumpulkan kambing dan unta. Yang ternyata kambing dan unta itu adalah harta zakat. Tetapi sah bagi rakyat untuk mengaudit kekayaan pemimpinnya. Dan wajib bagi pemimpin untuk menjawab dengan jujur.
Dengan kebaikan pemimpin yang memandang dengan cinta, ternyata tidak serta merta umat mendoakan kebaikan bagi pemimpinnya. Doa itupun tetap dimulai dari pemimpin. Setelah itu, umat akan mendoakan pemimpinnya. Menjadi pemimpin memang harus lapang hati.
Jika ada pemimpin yang mendoakan umatnya dalam kesendirian malamnya atau dalam setiap untaian doanya, maka berarti dialah pemimpin yang selalu memikirkan kebaikan rakyatnya. Cintanya bukan basa-basi. Janjinya bukan janji palsu. Manis di bibir, manis pula di hati.
Allah akan menggerakkan umat yang didoakan, untuk mendoakan pemimpinnya. Agar diberikan kekuatan, ketabahan, kesabaran, kemenangan dan pahala yang melimpah.
Sebaliknya, pemimpin yang buruk tersimpul dalam dua kata: Benci dan Laknat. Timbal balik itu bermula juga dari pemimpin. Benci dan laknat. Saling curiga, saling menyalahkan, saling menuduh, saling menjatuhkan. Bisa jadi, sebuah kebijakan pemimpin terlaihat baik. Tetapi sebenarnya menjebak umatnya. Yang berarti, membangunnya atas nama kebencian. Maka yakinlah, umat akan membalas ‘kebijakan manis’ itu dengan kebencian. Karena apa yang ada dalam hati memang tidak bisa dilihat tetapi bisa dirasa; kata hati akan sampai ke hati.
Hadits Nabi SAW di atas hanya diperuntukkan bagi pemimpin. Umat yang harus memilih pemimpin, hendaknya berupaya maksimal untuk memilih pemimpin yang mampu memimpin dengan dinta dan doa.

Budi Ashari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar