Fiet, begitulah biasanya saya dipanggil. Saya, seorang mahasiswi FISIP semester enam
sebuah Perguruan Tinggi di Lampung.
Alhamdulillah, salah satu organisasi yang saya ikuti di kampus
mempercayakan saya sebagai satu dari lima delegasi Indonesia pada ASEAN Youth
Camp di Laos awal Januari lalu. Dua orang lainnya dari Jakarta, satu orang dari
Surabaya dan seorang lagi dari Yogyakarta.
Sebelum
keberangkatan, kami mengikuti masa karantina selama seminggu di Jakarta untuk memperdalam pengetahuan tentang budaya
Indonesia, memilah dan memilih benda-benda unik dan cocok untuk dibazarkan
serta mencari cindera mata. Kebetulan ibu asrama yang sekaligus pelatih tari
untuk dua orang delegasi penari beragama Nasrani. Demikian pula dengan delegasi
yang dari Jakarta dan Yogyakarta, tapi saya coba untuk tidak menjadikan
perbedaan agama sebagai suatu kesulitan, demi misi Indonesia tercinta.
Kesibukan
mempersiapkan diri selama karantina membuat saya lupa kalau seminggu telah
berlalu. Tibalah saatnya menuju negara seberang. Tepat pukul 13.00 pesawat
meninggalkan bandara Soekarno-Hatta menuju Thailand untuk transit di sana.
Pesawat tujuan Laos berangkat pukul 21.00 waktu Indonesia. Dan tiba di
Vientiene, ibukota Laos pukul 22.15 waktu Indonesia. Kami disambut hangat oleh
para pejabat negara, dan langsung diantar ke Lane Xang Hotel tempat kami
tinggal selama kegiatan. Tidak terlihat hal yang aneh dan asing di ibukota Laos
ini, mungkin karena banyak turis asing. Jadi kesan etnik dan tradisional sudah
mulai pudar terpendam oleh hal-hal modern dari luar. Di sinipun masih bisa
ditemui restoran muslim. Jadi tidak begitu sulit bagi muslim mencari masakan
yang terjamin kehalalannya.
Waktu–waktu senggang saya gunakan untuk hunting photo
tempat-tempat yang unik. Pernah suatu kali saya dilarang oleh guide agar tidak
memotret museum Sheethatirath dan
isinya. Katanya, roh seekor naga yang menunggu museum itu bisa marah. Menurut
legenda, museum itu pernah didatangi seekor naga dan bersemayam di satu kuil
yang terletak di dalam museum. Untuk mengunjungi museum itu saja, seseorang
harus benar-benar dalam keadaan suci (untuk wanita). Tapi saya tidak peduli. Itu kepercayaan
mereka, bukan kepercayaan saya. Pernah saya nekad mengambil beberapa gambar
museum dan isinya termasuk gambar naga yang menempel di dinding, tentu saja
tanpa sepengetahuan mereka. Ketika
dicetak, hasilnya sungguh diluar dugaan. Tak satupun hasilnya yang jadi.
Benarkah ini ada kaitannya dengan cerita guide itu? Tapi saya tidak mempercayainya.
Justru saya berpikir bahwa ini semua disebabkan kesalahan pada waktu mengambil
gambar.



